Kompas.com - 05/10/2013, 14:02 WIB
|
EditorWardah Fazriyati
KOMPAS.com - Trombosis atau penggumpalan darah, rentan terjadi usai melakukan operasi ortopedi. Kondisi ini terjadi akibat banyaknya pembuluh darah yang terluka, sehingga mengganggu aliran darah dan berisiko mengakibatkan pembekuan.  Kondisi ini kerap terjadi pada operasi ortopedi skala besar, seperti penggantian lutut atau panggul. Meski begitu, sebenarnya kondisi ini dicegah dengan mengonsumsi obat antikoagulan.

Hasil penelitian di Departemen Hematologi dan Departemen Ortopedi FKUI/RSCM pada 2009 menunjukkan, 61,5 persen pasien mengalami trombosis usai operasi ortopedi. Trombosis ini terjadi di aliran pembuluh darah balik (vena), yang dikenal dengan nama deep vein trombosis (DVT). Sedangkan di negara barat, kejadian serupa berkisar 40-80 persen.

"Keadaan ini dulu tak disadari dokter atau pasien yang melakukan operasi. Padahal trombosis berisiko mengakibatkan kematian mendadak, karena kita tidak tahu lokasi sumbatan atau jika sumbatannya lepas dan menyangkut di arteri koroner," kata ahli hematologi dan onkologi media dari FKUI-RSCM, Prof Dr dr Karmel Lidow Tambunan saat temu media bertema Pemberian Obat golongan Tromboprofilaksis Sebagai Upaya Pencegahan Komplikasi dan Kematian Akibat Trombosis, di Jakarta, Jumat (4/10/2013).

Kondisi ini, kata Karmel, sebetulnya bisa dicegah. Pasien yang akan melakukan operasi besar, sebaiknya mengkonsumsi obat antikoagulan (tromboprofilaksis) sebelum dan setelah operasi. Untuk operasi panggul, lamanya konsumsi antikoagulan adalah 35 hari. Sedangkan pada operasi lutut hanya 15 hari.

"Saat ini sudah tersedia antikoagulan yang bisa dikonsumsi oral. Kondisi ini tentu lebih baik karena membantu kepatuhan pasien, dalam mengkonsumsi antikoagulan dibanding bentuk injeksi," kata Karmel.

Para lansia lebih rentan menderita trombosis usai operasi ortopedi, peluangnya kurang lebih 50 persen. Hal ini terjadi karena pembuluh darah tidak lagi elastis, aliran darah terlalu cepat atau lambat, dan kondisi darah itu sendiri.

Lebih lanjut, ahli ortopedi FKUI-RSCM Dr dr Andri Lubis, SpOT (K) menjelaskan, operasi penggantian lutut dan panggul memang lebih sering terjadi pada lansia. Tindakan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup ini dilakukan dengan mengoreksi bagian atas tulang akibat adanya pengapuran (ostheoarthritis). Dengan pemasangan implan, penderita bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

"Operasi penggantian panggul dan lutut umumnya dilakukan lansia berumur 60-65 tahun, dengan tingkat keberhasilan 80-90 persen. Namun patut diingat operasi ini juga berisiko besar menyebabkan DVT mencapai 50 persen," kata Andri.

Untuk menanggulangi risiko ini, Andri menyarankan pemberian antikoagulan. Tentunya dengan dosis yang dipertimbangkan supaya tetap efektif, tapi tidak menyebabkan pendarahan. Pemberian antikoagulan akan mencegah penggumpalan, sehingga implan bisa bekerja maksimal meningkatkan kualitas hidup lansia.

Obat tromboprofilaksis oral terbagi atas dua golongan, yaitu Xa dan direct thrombin inhibitor (DTI). Golongan Xa terdiri atas apixaban dan rivaroxaban. Sedangkan dari golongan DTI adalah dabigatran.

"Baru-baru ini kami meluncurkan tromboprofilaksis jenis apixaban. Obat ini bisa dikonsumsi dengan dosis 2,5 miligram, sebanyak dua kali sehari. Saat ini golongan apixaban merupakan antikoagulan yang harus diminum 12-24 jam paca operasi," kata Marketing Director PT Pfizer Indonesia, Matthew Golden.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bagaimana Cara Menyusui Bayi?

Bagaimana Cara Menyusui Bayi?

Health
Manfaat Pemberian ASI Bagi Bayi dan Ibu

Manfaat Pemberian ASI Bagi Bayi dan Ibu

Health
7 Manfaat Vitamin B Kompleks untuk Kesehatan

7 Manfaat Vitamin B Kompleks untuk Kesehatan

Health
12 Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Mengatasinya

12 Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Mengatasinya

Health
Apa yang Perlu Diketahui dari Kasus Hepatitis Misterius pada Anak?

Apa yang Perlu Diketahui dari Kasus Hepatitis Misterius pada Anak?

Health
Bagaimana Mencegah Penularan Cacar Monyet?

Bagaimana Mencegah Penularan Cacar Monyet?

Health
Cara Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Cara Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Health
Jangan Sampai Kecolongan, Gejala Kanker Usus Bisa Dilihat dari Feses

Jangan Sampai Kecolongan, Gejala Kanker Usus Bisa Dilihat dari Feses

Health
Tips untuk Menjaga Kesehatan Usus

Tips untuk Menjaga Kesehatan Usus

Health
7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

Health
6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

Health
5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

Health
Panduan Singkat untuk Perawatan Bayi Baru Lahir

Panduan Singkat untuk Perawatan Bayi Baru Lahir

Health
6 Cara Mencegah Kanker Usus yang Penting Dilakukan

6 Cara Mencegah Kanker Usus yang Penting Dilakukan

Health
8 Penyebab BAB Keras dan Cara Mengatasinya

8 Penyebab BAB Keras dan Cara Mengatasinya

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.