Kompas.com - 24/03/2014, 13:11 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

 

KOMPAS.com - Perjuangan seorang ibu sebelum dapat memeluk buah hati mungilnya tiba di dunia tidaklah sederhana. Dalam menjalani proses konsepsi, hamil, hingga persalinan, ibu membutuhkan usaha sekaligus kesabaran yang besar. Terlebih, jika ada komplikasi dalam kehamilan seorang ibu tentu membutuhkan upaya ekstra, serta dukungan yang tiada henti dari orang-orang di sekitarnya.

Seperti yang dialami oleh Utami (35). Sebelum dapat memeluk putra pertamanya Hafidz yang kini berusia lima bulan, ia harus melewati perjuangan yang cukup panjang. Utami menikah di tahun 2006 dan sudah ingin memiliki buah hati sejak saat itu. Tak lama, ia memang hamil, namun sayangnya janin di dalam kandungannya keguguran.

Menurut dokter, kandungannya saat itu lemah sehingga tidak sanggup bertahan menghadapi guncangan. Saat itu memang Utami masih berpergian dengan membonceng motor.

Tak menyerah dengan gagalnya kehamilan pertamanya, Utami tetap mencoba untuk kembali hamil. Namun nasib berkata lain, ia tak kunjung hamil hingga tujuh tahun. Pemeriksaan menunjukkan dirinya memiliki kista di buluh rahimnya sehingga menghalangi sperma untuk mencapai sel telur.

"Dokter bilang kalau kista saya enggak diambil, saya enggak akan bisa hamil. Tapi saya enggak mau menyerah dengan apa kata dokter, saya percaya saya bisa hamil," ujar Utami saat ditemui di kediamannya di Tangerang.

Dengan usaha keras serta doa yang tak pernah putus, Utami pun dinyatakan hamil di usia 34 tahun. Senang bukan main, ia berusaha supaya kandungannya tetap sehat. Namun kehamilannya tak semulus yang dibayangkan.

Posisi kepala janin sudah mengikuti gravitasi sehingga plasentanya pun tertekan hingga ke bagian bawah rahimnya. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan menjadi plasenta previa yaitu istilah yang menggambarkan plasenta menutupi jalan lahir.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) Dwiana Ocviyanti mengatakan, plasenta previa merupakan salah satu dari tiga hal yang menjadi ancaman penyebab kematian ibu. Plasenta previa, kata dia, dapat memicu terjadinya pendarahan.

"Dalam kondisi plasenta previa, bayi sulit untuk dapat dikeluarkan karena jalan lahirnya tertutup plasenta. Sementara, pendarahan mungkin saja terjadi sehingga ibu kehilangan banyak darah," tutur Dwiana dalam acara Nutritalk Sarihusada beberapa waktu lalu di Jakarta.

Beruntung, Utami sudah mengetahui lebih dulu risiko tersebut melalui hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang dijalaninya. Maka Utami pun semakin rajin memeriksakan kandungannya untuk mencegah komplikasi lebih banyak dari kondisi plasenta yang tidak seharusnya.

Hal itu dibenarkan oleh Dwiana. Menurutnya, cara terbaik untuk mencegah komplikasi dari plasenta previa adalah dengan deteksi dini dengan USG yang dilakukan di usia kehamilan 3-4 bulan. "Pemeriksaan kehamilan rutin merupakan hal vital dalam menjaga kehamilan yang sehat," tegasnya.

Di samping rajin memeriksakan kandungannya, kehamilan berisiko Utami dapat ditekan juga karena faktor orang-orang terdekat yang sangat mendukung, serta fasilitas kesehatan yang terbilang dekat dari kediamannya.

"Saya patut bersyukur karena memiliki suami siaga. Di usia kehamilan saya sembilan bulan, saya sempat mengalami pendarahan, mungkin karena posisi plasenta yang menutupi jalan lahir. Untungnya, suami langsung membawa saya ke rumah sakit yang hanya lima menit dari rumah. Di sana, saya langsung menjalani operasi bedah Caesar. Meski pun saya inginnya normal, tapi keadaannya cukup sulit," tutur Utami.

Ya, Utami mungkin satu dari calon ibu yang beruntung. Kehamilan berisikonya dapat dilewatinya dengan baik sehingga putranya Hafidz kini dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat. Namun tidak semua calon ibu seberuntung Utami, sehingga mereka pun menghadapi risiko kematian yang tidak kecil.

Angka Kematian ibu dan bayi

Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2013 menunjukkan, angka kematian ibu (AKI) meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yaitu mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah ini meningkat dari tahun 2007 yang jumlahnya tercatat 228 per 100.000 kelahiran hidup.

Menurut Dwiana, persiapan kehamilan merupakan hal terpenting dalam menekan AKI. "Budaya kehamilan tanpa persiapan yang terjadi pada kebanyakan masyarakat Indonesia harus ditinggalkan," tandasnya.

Persiapan kehamilan, terang dia, meliputi antara lain mengetahui risiko kehamilan dan pemenuhan gizi. Dwiana memaparkan, risiko kehamilan meningkat seiring bertambahnya usia ibu, jumlah kehamilan, atau dekatnya jarak kehamilan.

Untuk mengetahui risiko kehamilan, diperlukan pemeriksaan rutin, minimal empat kali selama kehamilan. Bahkan kini para dokter kandungan telah menyarankan untuk meningkatkan frekuensi pemeriksaan kehamilan sebanyak 12 kali, khususnya bagi kehamilan risiko tinggi.

Tinggi rendahnya risiko kehamilan ditentukan oleh kondisi kehamilan itu sendiri. Jika semakin banyak faktor risiko seperti preeklamsia, diabetes gestasional, atau bahkan memiliki hal yang menjadi ancaman penyebab kematian ibu, maka semakin berisiko lah sebuah kehamilan.

Kondisi yang menjadi ancaman penyebab kematian ibu selain plasenta previa adalah solusio plasenta atau yang dikenal dengan istilah awam, ari-ari lepas. Biasanya terjadi karena trauma, seperti terjauh, atau mendapat kekerasan. Selain itu, ada pula pendarahan.

Gizi lengkap dan seimbang

Faktor yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam menekan AKI adalah gizi. Pemenuhan gizi ibu hamil menentukan pula kesehatan janin yang dikandungnya. Konsumsi zat gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air perlu lengkap dan seimbang.

Dokter spesialis gizi FKUI/RSCM Widjaja Lukito mengatakan, gizi merupakan salah satu unsur penting dalam kehamilan, termasuk dalam persiapannya. "Kunci pemenuhan gizi adalah lengkap dan seimbang. Jadi bukan juga makan untuk dua orang," tandas dia.

Hal yang menjadi parameter seorang ibu cukup gizi, imbuh dia, adalah dari penambahan berat badan. Ibu hamil dengan indeks massa tubuh (IMT) normal perlu mengalami penambahan berat badan 12-13 kilogram (kg).

Sementara Bagi wanita dengan IMT 25-29,9 penambahannya hanya berkisar 6,8-11,4 kg, dan bagi yang lebih dari 30, penambahan berat badannya tidak boleh lebih dari 6,8 kg. Jika IMT di bawah normal, maka kenaikan berat badannya bisa lebih besar menjadi 12,7-18,2 kg.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.