Kompas.com - 08/05/2014, 18:29 WIB
/Ilustrasi Shutterstock/Ilustrasi
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com -
Anak-anak memang tampak lebih anteng jika sedang mengulik gadgetnya. Di lain pihak, sebagian besar orangtua percaya anak-anak akan mendapatkan manfaat dari aplikasi bersifat edukasi yang terdapat dalam gadget. Bahkan, gadget mulai menggantikan buku atau mainan konvensional seperti boneka atau mobil-mobilan.

Dari 65 keluarga yang disurvei di AS, ternyata 63 diantaranya mengaku memiliki gadget layar sentuh (touch screen). Rata-rata balita mereka mulai menggunakan gadget sejak usia 11 bulan dan memainkannya sekitar 36 menit setiap harinya.

Apa saja yang dimainkan anak dengan gadget-nya? Sebanyak 30 persen orangtua mengatakan anak mereka memainkan gadget untuk melihat "tayangan edukasi", bermain games edukasi (26 persen), hanya memencet-mencet sembarangan (28 persen), dan bermain games non-edukasi (14 persen).

Hampir 60 persen orangtua yang disurvei percaya anak mereka mendapatkan manfaat dari penggunaan gadget. Tapi sayangnya hasil penelitian tidak menunjukkan hal demikian.

Balita yang memainkan games nonedukasi di ponsel pintar, e-readers dan tablet, memiliki nilai yang rendah dalam tes verbal, jika dibandingkan dengan anak yang menggunakan gadget untuk menonton tayangan edukasi.

"Teknologi tak akan bisa menggantikan interaksi orangtua dengan anak-anaknya. Mengajak anak ngobrol adalah cara terbaik untuk mengajarinya hal baru," kata Dr.Ruth Milanaik, dari Cohen Children's Medical Center of New York.

Pada tahun 2011, the American Academy and Pediatrics (AAP) memberi rekomendasi agar waktu bermain gadget pada anak dibatasi maksimal 2 jam setiap hari. Penggunaan gadget pada anak berusia kurang 2 tahun disebut bisa berdampak negatif pada perkembangan anak.

Tetapi pada tahun 2013, AAP menyebutkan bahwa gadget memiliki manfaat positif dan prososial pada anak. Tetapi, gadget tidak direkomendasikan diberikan pada anak berusia kurang dari 3 tahun.

Sebuah penelitian juga mengungkapkan, bayi belajar dari interaksi langsung yang diberikan kepadanya. Karena itu para ahli berpendapat tayangan video edukasi atau pun flash card tidak bisa meningkatkan kecerdasan bayi.

Bayi juga memiliki rentang konsentrasi yang pendek sehingga mereka mudah bosan pada stimulasi yang berlebihan. Tidur yang cukup dan berkualitas justru berdampak besar pada perkembangan otaknya. Stimulasi berlebihan dari televisi atau gadget juga bisa membuat anak mengalami gangguan konsentrasi dan merusak kemampuan anak mengontrol diri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.