Kompas.com - 14/05/2014, 13:55 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

Bandung, Kompas.com -- Menghadapi penyakit berat dengan sikap positif tidak mudah dilakukan. Perlu kerja keras dan dukungan semua pihak agar mereka yang terkena penyakit berat seperti lupus bisa menjalani hidup lebih berkualitas.

Upaya ini terus dilakukan Syamsi Dhuha Foundation yang selama 10 tahun ini berjuang mendampingi orang dengan lupus (odapus).

“Ini adalah kisah pergeseran mental, dari sikap negatif terhadap penyakit menjadi positif. Kami tidak ingin meratap, bercucuran air mata. Kami ingin bisa menjalani hidup menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” kata Dian Syarief, Ketua SDF di acara peluncuran buku Mentarimorfosa di Bandung akhir pekan lalu.

Buku itu menandai satu dasawarsa perjalanan SDF berkiprah di tengah masyarakat. Buku setebal 128 halaman ini dibuat agar odapus bisa berproses ke arah yang lebih baik, selain itu juga bertujuan sebagai bentuk kampanye kesadaran masyarakat tentang lupus. Buku ini juga menjadi kegiatan wirausaha sosial bagi odapus.

“Tahun ini saya berulang tahun ke 15 dan terimakasih saya masih bisa tetap menjalani hidup dengan baik hingga sekarang,” kata Dian. Ulang tahun yang dimaksud Dian mengacu pada saat pertama kali ia terkena lupus, yaitu 15 tahun lalu.

Lupus adalah kondisi dimana sistem kekebalan tubuh seseorang berlebihan sehingga justru menyerang organ-organ tubuhnya sendiri. Kondisi itu bisa fatal jika organ tubuh yang diserang adalah organ vital seperti paru-paru, ginjal, jantung, dan lain-lain.  

Dian menjadikan dirinya sebagai contoh bagaimana ia menghadapi lupus dengan sikap positif meski ia sudah puluhan kali menjalani operasi. Di awal ia mengaku sering jatuh bangun saat lupus mendera. Ia dibantu suaminya, dan juga menguatkan diri dengan berkumpul bersama para odapus lainnya. "Saya pernah melihat ada yang kondisinya lebih parah karena tidak punya uang untuk berobat. Dari situ saya terpikir untuk berbuat sesuatu," ungkap Dian.  

Selain peluncuran buku, peringatan 10 tahun SDF yang bertepatan dengan World Lupus Day ini juga diisi dengan pemberian penghargaan Research Sponsorship All About Lupus dan Pengabdian Seumur Hidup kepada 10 orang yang tak lelah membantu odapus.

Rachmat Gunadi, dokter yang menjadi sukarelawan SDF, mengatakan, saat ini Indonesia belum memiliki data epidemiologi lupus. Angka yang dipakai sebagai acuan di Indonesia biasanya diambil dari data penderita lupus di dunia yang jumlahnya sekitar 5 juta orang. Di Indonesia diperkirakan 400.000 orang terkena lupus.

Selama sepuluh tahun, SDF berjuang tidak hanya mendampingi mental para odapus. Organisasi nirlaba ini juga berjuang mendapatkan obat-obatan murah bagi odapus.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.