Kompas.com - 15/09/2014, 14:52 WIB
Ilustrasi Ilustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Anak-anak dan remaja paling berpotensi menjadi perokok pemula. Berdasarkan data yang dipaparkan Lentera Anak Indonesia, jumlah anak yang menjadi perokok bahkan meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Pada tahun 2001, sebanyak 9,5 persen anak-anak usia 10-14 tahun merokok. Jumlah ini meningkat pada 2010 menjadi 17,5 persen. Kemudian untuk perokok usia 14-19 tahun juga meningkat dari 12,7 persen tahun 2001 menjadi 20,3 persen pada 2010. Melihat hal ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali didesak untuk segera meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Kerangka Kerja Pengendalian Produk Tembakau.

SBY dinilai masih memiliki waktu tersisa 30 hari untuk meratifikasi FCTC sebelum masa jabatannya berakhir. Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia, Hery Chariansyah mengatakan, desakan itu juga datang dari badan dunia Unicef dan WHO agar Indonesia menjadi negara ke 178 yang akan mengaksesi FCTC.

"Indonesia satu-satunya di kawasan Asia yang belum meratifikasi FCTC," kata Hery.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Linda Agum Gumelar juga mendukung agar presiden segera meratifikasi FCTC. Menurut dia, bahaya tembakau sangat merugikan bagi kesehatan.

"Sebagai orang dewasa, kita tidak boleh merokok di depan anak. Di dalam undang-undang perlindungan anak-anak yang baru, juga diminta peran swasta dan media untuk tumbuh kembang anak," kata Linda.

Data global adult tobacco survey (GATS) dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, saat ini perokok di Indonesia mencapai 61,4 juta jiwa, laki-laki dewasa 67,4 persen perempuan 4,5 persen. Anak-anak dan remaja yang merupakan generasi produktif masa mendatang diharapkan tidak terkena bahaya rokok. Rokok sendiri mengandung 7000 bahan kimia dan 70 diantaranya menyebabkan kanker.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Asrorun Niam menambahkan, pemerintah perlu segera meratifikasi FCTC untuk melindungi anak-anak dari bahaya rokok. Dalam FCTC, diatur mengenai perlindungan dari paparan asap tembakau terhadap anak dan mengatur mengenai iklan rokok untuk mencegah anak-anak menjadi perokok pemula.

"Nantinya akan ada kesadaran bahwa merokok di depan anak itu, mereka akan merasa malu. Industri rokok akan diberikan sanksi hukum dan sosial jika menargetkan anak-anak," kata Asrorun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Health
Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Health
10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

Health
Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Health
Sindrom Steven-Johnson

Sindrom Steven-Johnson

Penyakit
Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Health
Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Health
Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Health
Apa Penyebab Kulit Kering?

Apa Penyebab Kulit Kering?

Health
4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

Health
8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

Health
Sindrom Asperger

Sindrom Asperger

Penyakit
Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.