Kompas.com - 13/01/2015, 08:10 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Lemak trans alias lemak jenuh memiliki predikat buruk sebagai salah satu pemicu penyakit jantung koroner. Dokter bahkan menyebut lemak ini sebagai lemak terburuk yang bisa kita makan. Lemak ini bisa kita temukan dalam makanan siap saji, margarin, pizza, dan berbagai camilan.

Lemak trans dalam jumlah sedikit secara alami terdapat dalam daging dan produk olahan susu. Namun, sebagian besar lemak trans terbentuk melalui proses penambahan hidrogen ke dalam minyak sayur yang menyebabkan minyak menjadi padat pada suhu kamar.

Minyak yang terhidrogenasi ini akan cenderung tidak mudah rusak, sehingga makanan yang dibuat dengan langkah seperti itu akan memiliki umur simpan yang panjang.

Beberapa restoran menggunakan minyak sayur yang telah terhidrogenasi dalam proses penggorengan yang membutuhkan minyak yang banyak (deep frying), sehingga tidak perlu dilakukan penggantian minyak terlalu sering. Lemak trans juga membuat makanan menjadi lebih gurih.

Jenis makanan yang diproduksi dari lemak trans, yang dikenal sebagai minyak terhidrogenasi parsial, ditemukan dalam berbagai produk makanan, termasuk yang dipanggang dan diolah menggunakan mentega, makanan yang digoreng dengan minyak yang banyak, camilan, pizza beku, dan juga krimer serta margarin.

Di Amerika Serikat jika makanan memiliki kurang dari 0,5 gram lemak trans dalam setiap porsinya, maka dalam label makanan boleh ditulis 0 gram lemak trans. Karena itu Anda harus berhati-hati dengan lemak tersembunyi ini, terutama jika mengonsumsi lebih dari satu porsi.

Beberapa negara sudah mulai membatasi penggunaan lemlak trans karena bahayanya bagi kesehatan. Industri makanan kini mulai mencari pengganti lemak trans, tapi sebagian besar masih tetap menggunakan lemak jenuh.

Selain meningkatkan kadar kolesterol jahat dan menurunkan kolesterol baik, lemak trans diketahui berdampak buruk bagi otak. Terlalu banyak konsumsi lemak ini bisa membuat otak kurang mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

Mengingat banyaknya bahaya yang ditimbulkan lemak trans, sebaiknya kita mulai membatasi bahan makanan yang merupakan sumber lemak  ini. Kita juga bisa membatasi penggunaan minyak untuk menggoreng yang dipanaskan berulang-ulang. (Monica Erisanti)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X