Kompas.com - 05/03/2016, 12:23 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

 

KOMPAS.com - Sindrom patah hati merupakan kondisi langka yang menyebabkan gangguan pada jantung. Umumnya, sindrom patah hati disebabkan oleh stres dan peristiwa emosional yang menyedihkan.

Namun, menurut penelitian terbaru di Eropa, sindrom patah hati dapat terjadi ketika seseorang mengalami peristiwa bahagia dan emosi positif.

Hasil penelitian didapat dengan menganalisis 1.750 orang, baik pria maupun wanita yang terdata di Takotsubo Registry Internasional. Peniliti menemukan, 465 peserta mengalami gejala sindrom patah hati setelah mengalami emosi negatif, seperti kematian orang yang dicintai, pengalaman menakutkan karena kecelakaan, penyakit, hingga ada masalah keuangan.

Namun, sebanyak 20 orang atau sekitar 4 persen dari responden mengalami gejala tersebut karena dipicu emosi positif, seperti merayakan pesta ulang tahun, anak menikah, hingga memiliki cucu.

Penulis studi yang merupakan dokter jantung Jelena R. Ghadri mengatakan, sebanyak 465 peserta dikateogrikan sebagai kelompok “patah hati” dan 20 peserta sebagai kelompok “hati senang”. Sindrom ini 95 persen terjadi pada perempuan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan pencitraan jantung, peneliti menemukan banyak kesamaan kondisi jantung saat "hati senang" dan "patah hati." Penelitian selanjutnya pun akan melihat interaksi antara otak dengan kondisi jantung. Sebab, hingga saat ini belum jelas bagaimana kondisi emosional seseorang dapat melemahkan otot jantung.

Hipotesis dari Mayo Clinic menyebutkan, lonjakan hormon stres barangkali menjadi pemicu kerusakan pada jantung bagi beberapa orang.

Menurut European Heart Journal, sindrom patah hati, yaitu melemahnya otot jantung secara mendadak dan bersifat sementara. Sindrom ini kebanyakan dipicu oleh emosi negatif seperti kemarahan, ketakutan, kecemasan, hingga kesedihan.

Sindrom patah hati terkadang disangka serangan jantung karena gejalanya muncul nyeri dada dan sesak napas. Gejala tersebut biasanya muncul dalam beberapa menit atau jam setelah seseorang merasa stres.

Sindrom ini mulanya bernama sindrom Takotsubo syndrome dan juga disebut cardiomyopathy stres. Nama Takotsubo diberikan oleh peneliti Jepang yang pertama kali melihat sindrom ini tahun 1990.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.