Kompas.com - 31/03/2016, 10:00 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Sama seperti gangguan jiwa lainnya, bipolar juga dapat diobati. Jika menjalani pengobatan dengan baik, orang dengan bipolar bisa kembali menjalani aktivitas seperti biasa, tak ada bedanya dengan mereka yang tidak bipolar.

Pengobatan diperlukan untuk mengendalikan neurotransmitter di otak yang tidak seimbang. Jika tidak diobati, orang dengan bipolar bisa berulang kali mengalami perubahaan suasana hati. Dampaknya tak hanya secara mental, tetapi juga fisik, yaitu pada otak.

“Untuk struktur otak, itu mempengaruhi neurotransmitter. Neurotransmitter itu kayak rayap, jadi makan sel-se sarafnya, sehingga mengecil. Kemampuan berpikir otaknya menurun kalau tidak diterapi dengan baik. Ada kemunduran sel-sel sarafnya,” ujar dokter spesialis kedokteran jiwa Endah Ronawulan di sela-sela acara seminar Living Inside Bipolar Mind di Jakarta, Rabu (30/3/2016).

Dalam bipolar dikenal episode manik (mania) dan depresi. Episode manik ditandai dengan perilaku terlalu senang, banyak bicara, tidak pernah lelah, dan terlalu aktif sehingga tidak tidur. Hal itu terjadi karena neurotransmitter serotonin hingga dopamin di otak meningkat.

Sedangkan episode depresi adalah kebalikannya, seperti mengunci diri dalam kamar seharian, hilang minat, pesimis, hingga punya ide untuk bunuh diri. Saat depresi, neurotransmitter serotonin hingga dopamin di otak menurun.

Dengan minum obat, mood swing yang terjadi terus-menerus itu bisa tidak muncul. Jika penyakit ini tidak diterapi juga berisiko menjadi bipolar berat yang disertai gangguan psikiatri lainnya. Maka, obat yang diberikan disesuaikan dengan kondisi pasien.

Harga obat bipolar mulai dari puluhan ribu sampai ratusan rupiah. Sejumlah obat pun bisa ditanggung BPJS Kesehatan. Endah  mengatakan, kini juga ada obat suntik yang diberikan sebulan sekali.

Endah menjelaskan, untuk munculnya episode pertama, pasien harus minum obat setiap hari selama 6 bulan sampai 1 tahun. Jika terjadi episode berulang, konsumsi obat harus selama 2-5 tahun. Setelah itu, ada fase drug holiday atau libur minum obat selama tiga bulan.

“Selama tiga bulan hasilnya bagus, bisa stop obatnya,” kata Endah.

Selama pengobatan, pasien diminta tetap kontrol sebulan atau dua bulan sekali untuk melihat efek obat yang diberikan. Jika membaik, dokter pun akan menurunkan dosis obat hingga akhirnya lepas konsumsi obat.

Selain itu, pasien juga mendapat psikoterapi agar bisa mengendalikan emosi ketika suatu waktu menghadapi masalah berat yang bisa memicu gangguan bipolar kembali muncul. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.