Orang yang Pernah Mencoba Bunuh Diri Akan Mengulanginya

Kompas.com - 12/11/2016, 11:45 WIB
Ilustrasi TOTO SIHONOIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Bunuh diri merupakan masalah kesehatan di banyak negara. Walau di Indonesia belum ada data nasional, tetapi hampir setiap minggu kita menemukan kasus bunuh diri atau percobaan bunuh diri di media.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, di banyak negara, bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor dua pada penduduk berusia 15-29 tahun. Setiap tahun terdapat 800.000 orang mati karena bunuh diri.

Minum racun, gantung diri, dan lompat dari tempat tinggi atau menyakiti diri sendiri menjadi tiga cara bunuh diri yang paling banyak ditemui di negara wilayah WHO-Asia Tenggara.

Bunuh diri merupakan masalah yang kompleks karena tidak diakibatkan oleh penyebab tunggal. Tindakan bunuh diri adalah akibat dari interaksi yang kompleks faktor biologis, genetik, psikologis, sosial, budaya, dan lingkungan.

Yang juga harus dicatat adalah, orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri akan mencobanya lagi. Dalam tiga bulan pertama sampai satu tahun pasca percobaan bunuh diri, seseorang akan mencoba untuk yang kedua kalinya, dan pada saat itu kemungkinaan akan sukses.

Seperti dikutip dari majalah Time online, kesuksesan melakukan bunuh diri pada orang yang pernah mencobanya dalam kurun waktu 5 tahun adalah 1 dari 25.

Penelitian yang dilakukan Dr J Michael Bostwick, psikiater dari Mayo Clinic, mengungkapkan fatalitas dari upaya bunuh diri yang kedua mencapai 59 persen dibanding usaha yang pertama.  Di Amerika, angka keberhasilan bunuh diri paling besar melibatkan senjata api.

"Mayoritas usaha bunuh diri merupakan tindakan yang impulsif, dan sangat penting untuk mencegah akses pada senjata. Orang yang pernah mencoba bunuh diri sering mengalami pikiran untuk melakukannya lagi, ketika ada alat yang sangat efektif seperti senjata, tak ada kesempatan untuk mempertimbangkannya lagi," kata Bostwick.

Hal yang tak kalah penting untuk mencegah bunuh diri adalah memberi perhatian pada gejala awal upaya bunuh diri. Orang yang depresi menggunakan zat adiktif seperti narkoba dan alkohol, atau menjalani hubungan yang bermasalah, merupakan kelompok yang berisiko tinggi.

"Lebih dari 90 persen orang yang mencoba bunuh diri pernah didiagnosis mengalami gangguan psikiatri," kata Dr Cahterine G Carrigan dan Denis J Lynch dalam artikelnya di Journal of Clinical Psychiatry.

Dokter dan keluarga terdekat pasien tentu jangan mengabaikan perubahan perilaku yang dialami. Gejala-gejala yang perlu diwaspadai, antara lain mengungkapkan keinginan mengakhiri hidup, menarik diri dari keluarga dan pergaulan, merasa tidak berdaya, putus asa, merasa bersalah dan malu, serta kehilangan minat melakukan aktivitasnya.

Kecuali Anda seorang profesional dalam bidang psikologi atau psikiatri, jangan anggap Anda bisa mengajak bicara orang yang berniat bunuh diri untuk mengubah niatnya. Dengarkan saja keluhannya dan ajak ia menemui dokter atau psikolog.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X