Kompas.com - 23/11/2016, 12:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Kebijakan Pemprov DKI untuk memberikan vaksin kanker serviks kepada siswi SD kelas V di Jakarta secara gratis patut diapresiasi.

Sebagai kanker yang menyebabkan kematian terbanyak pada wanita, sebenarnya kanker serviks bisa dicegah dengan vaksinasi. Sayangnya, harga vaksin yang relatif mahal, yaitu Rp 1,2 juta sekali suntik dan diperlukan dua sampai tiga dosis, membuat tak banyak orang yang mau mengeluarkan biaya untuk membayar vaksin ini.

Pemberian vaksin kanker serviks memang belum termasuk dalam program imunisasi nasional dari pemerintah. Namun, peserta Jaminan Kesehatan Nasional bisa melakukan deteksi dini penyakit ini menggunakan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) di Puskesmas secara gratis.

Menurut data WHO, kanker serviks merupakan kanker yang paling banyak menyebabkan kematian pada wanita berusia 15-45 tahun. Tak kurang dari 500.000 kasus baru dengan kematian 280.000 penderita terjadi tiap tahun di seluruh dunia. Bisa dikatakan, setiap dua menit seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks.

Kanker serviks diketahui disebabkan karena infeksi human papilloma virus (HPV) tipe 16 dan 18. HPV hidup di permukaan kulit, termasuk kulit luar. Sekitar 85 persen kanker serviks terjadi karena kontak seksual. Karena itu, sering berganti pasangan atau berhubungan seksual memperbesar risiko terinfeksi HPV.

Pencegahan primer penyakit ini adalah menghindari hubungan seks beresiko dan menjalani imunisasi HPV. Apalagi, efektivitas perlindungan imunisasi HPV dalam mencegah kanker cukup tinggi.

Sejumlah negara telah memasukkan vaksin HPV dalam program imunisasi nasional untuk siswi sekolah yang berusia 10-12 tahun, seperti Australia serta sejumlah negara di Eropa. Malaysia juga memberikan vaksin ini secara gratis.

Pemberian secara dini menguntungkan karena pada usia tersebut biasanya yang bersangkutan belum melakukan hubungan seksual dan juga tidak kalah pentingnya pada usia tersebut pembentukan antibodi setelah imunisasi amat tinggi.

Kanker serviks ditandai gejala, yakni keputihan, pendarahan spontan atau pendarahan setelah kontak seksual, dan nyeri panggul. Pada stadium awal, bisa tanpa gejala. Maka, deteksi dini dengan IVA dan pap smear pada wanita yang sudah berhubungan seksual amat dianjurkan.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.