Minggu, 21 September 2014 05:01

Gangguan Jiwa Meningkat

Selasa, 11 Oktober 2011 | 03:33 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS/ANTONY LEE
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (kiri) berbincang dengan pasien gangguan kejiwaan yang sudah mulai sembuh tentang lukisan karya pasien itu di Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (10/10). Kunjungan itu terkait acara puncak Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Indonesia yang dipusatkan di Rumah Sakit Marzuki Mahdi.

Jakarta, Kompas - Jumlah warga Jakarta yang mengalami gangguan jiwa semakin banyak. Dari survei kesehatan daerah tentang gangguan jiwa mental dan emosional oleh Kementerian Kesehatan, jumlah penderita gangguan jiwa di Jakarta mencapai angka 14,1 persen dari jumlah penduduk. Jumlah itu di atas angka nasional sebesar 11,6 persen.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati, Senin (10/10), mengatakan, jumlah penderita gangguan jiwa ringan hingga triwulan kedua tahun 2011 mencapai 306.621 orang, naik dari 159.029 orang pada tahun 2010.

”Jumlah penderita gangguan jiwa sedang yang dirawat di RSKD Duren Sawit dan RSJ Soeharto Heerdjan masing-masing sekitar 80 persen dari tempat tidur yang ada. Penderita gangguan jiwa berat yang dirawat di empat panti laras di Jakarta mencapai 2.400 orang,” katanya.

Di Depok, warga yang mengalami gangguan jiwa kebanyakan dari usia produktif 20-40 tahun. ”Kebanyakan mereka adalah pekerja informal, dari kalangan menengah ke bawah yang berobat dengan menggunakan Jamkesmas dan Jamkesda,” tutur psikiater Diana Papayungan SpKj.

Sepanjang tahun 2010, gangguan jiwa paling banyak ditemukan di Depok adalah skizofrenia paranoid. Amir (48), sopir angkot asal Depok, mengalami gangguan jiwa skizofrenia paranoid sejak berusia 18 tahun. Dia mengaku banyak terbebani masalah keluarga, seperti utang-piutang, anak, istri, rumah, dan tanah.

Menurut Dien, faktor penyebab meningkatnya gangguan jiwa adalah stres di tempat kerja, kemacetan di jalan, persaingan, kegagalan, dan kurang kasih sayang dari orangtua. Akibatnya, semakin sering terjadi bunuh diri, tawuran, dan penyalahgunaan narkoba.

Banyaknya penderita sakit jiwa itu belum diimbangi dengan jumlah fasilitas layanan kesehatan jiwa yang memadai. Selain 2 rumah sakit milik pemerintah dan 4 panti laras, ada 44 puskesmas kecamatan yang melayani penderita gangguan jiwa.

Keterbatasan itu, menurut Direktur RSKD Duren Sawit Joni H Ismoyo, menyebabkan pihaknya membatasi jumlah pasien rawat inap. Sebab, kapasitas rawat inap di rumah sakit itu terbatas 134 tempat tidur.

”Kalau ada pasien yang sudah sehat, langsung kami pulangkan. Kalau dia tidak punya keluarga, kami kirim ke panti sosial,” katanya.

Adaptasi

Menilik fenomena itu, pemerintah mendorong ”investasi” kesehatan jiwa sejak dini agar anak-anak dan remaja memiliki daya adaptasi di tengah tekanan yang semakin berat. Pada saat bersamaan, tenaga medis dan fasilitas pelayanan kejiwaan akan ditingkatkan

”Kalau dari kecil tidak diajari beradaptasi, dimanja, hanya dituruti kemauannya, ketika remaja mulai banyak gangguan godaan sulit. Narkotika, patah hati, depresi, tidak naik kelas, bunuh diri, tawuran, dan tindak kekerasan lainnya,” tutur Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih saat menghadiri acara puncak peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Kota Bogor, Jawa Barat.

(FRO/MDN/NDY/GAL)



IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui