Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

3 Gejala Henti Jantung yang Perlu Diwaspadai

KOMPAS.com - Cardiac arrest atau henti jantung adalah masalah jantung serius.

Pada kasus henti jantung, jantung berarti berhenti berdetak.

Kondisi ini juga dikenal sebagai kematian jantung mendadak atau sudden cardiac death.

Detak jantung kita dikendalikan oleh impuls elektrik.

Ketika impuls ini berubah pola, detak jantung bisa menjadi tidak teratur. Kondisi ini juga dikenal sebagai aritmia.

Beberapa aritmia lambat, yang lain bisa cepat.

Henti jantung terjadi ketika irama jantung berhenti.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian atau kecacatan.

Gejala henti jantung

Tergantung pada penyebabnya, henti jantung dapat menyerupai kondisi lain.

Ada tiga tanda yang ketika muncul bersamaan dapat membantu Anda membedakan henti jantung dari keadaan darurat lainnya. Jika ragu, cari bantuan medis darurat.

Pengenalan dini gejala henti jantung bersama dengan respons yang cepat dan tepat dapat secara signifikan meningkatkan peluang seseorang untuk bertahan hidup.

Dilansir dari Very Well Health, berikut adalah gejala henti jantung yang bisa terjadi:

1. Kehilangan kesadaran tiba-tiba

Terhentinya aliran darah ke otak membuat otak kekurangan oksigen dan gula yang dibutuhkan untuk berfungsi, mengakibatkan hilangnya kesadaran (sinkop).

Kondisi ini akan terjadi dalam beberapa detik setelah jantung berhenti.

Tidak seperti bentuk sinkop lainnya, di mana seseorang mungkin bisa terpengaruh secara tiba-tiba atau sebentar-sebentar, kehilangan kesadaran dengan henti jantung akan bertahan sampai fungsi jantung dan sirkulasi pulih.

2. Berhentinya pernapasan

Pada awal henti jantung, sering akan ada gerakan terengah-engah yang menyiksa, sesak napas, dan kadang-kadang seperti merintih atau mendengus.

Kondisi ini dikenal sebagai respirasi agonal dan terdapat pada 40-60 persen kasus henti jantung.

Respirasi agonal sebenarnya bukan aktivitas bernapas, melainkan refleks batang otak karena dihadapkan dengan kerusakan fungsi jantung yang dahsyat.

Biasanya, kondisi ini berlangsung hanya beberapa menit sebelum seseorang pingsan atau kolaps.

Kecuali fungsi jantung dan pernapasan dapat dipulihkan dalam beberapa menit, kerusakan otak permanen biasanya akan terjadi.

3. Tidak ada denyut nadi

Tidak adanya denyut nadi adalah tanda utama henti jantung.

Sayangnya, inilah gejala yang sering terlewatkan oleh penolong awam yang tidak tahu cara menemukan denyut nadi.

Jangan buang waktu mencari denyut nadi jika orang tersebut sudah pingsan dan berhenti bernapas.

Bahkan penyelamat profesional diminta untuk tidak menghabiskan waktu lebih dari 10 detik untuk memeriksa denyut nadi.

Sebaliknya, Anda harus segera memulai CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau RJP (resusitasi jantung paru) dan defibrilasi.

Jika orang dewasa berhenti bernapas, hubungi nomor darurat medis terdekat dan mulai kompresi dada CPR dengan kecepatan 100 hingga 120 denyut per menit.

Bahkan jika ternyata bukan henti jantung, CPR tidak akan membahayakan individu.

Respon dan pengobatan segera pada kejadian henti jantung dapat menyelamatkan nyawa penderita.

Gejala sebelum henti jantung

Untuk diketahui, beberapa orang yang mengalami henti jantung mungkin memiliki perasaan bahwa ada sesuatu yang salah sebelumnya.

Henti jantung di antaranya dapat didahului oleh gejala peringatan, seperti:

  • Kesulitan bernapas atau sesak napas
  • Sakit dada
  • Mual dan atau muntah
  • Detak jantung tidak teratur atau berpacu (aritmia)
  • Sakit kepala ringan dan pusing
  • Pingsan atau kehilangan kesadaran

Gejala-gejala ini tentu saja dapat dikacaukan dengan beberapa kondisi lain.

Akibatnya, orang sering tidak menyadari bahwa ada masalah sampai kejadian henti jantung itu sendiri terjadi.

Jadi segera saja konsultasikan dengan dokter jika Anda mengalami kondisi tersebut.

Cara mendiagnosis henti jantung

Selama kejadian henti jantung yang menyebabkan jantung Anda berhenti berdetak secara efisien, sangat penting untuk segera mencari perhatian medis.

Melansir Health Line, perawatan medis akan berfokus pada upaya membuat darah mengalir kembali ke tubuh Anda.

Dokter Anda kemungkinan besar akan melakukan tes yang disebut elektrokardiogram untuk mengidentifikasi jenis ritme abnormal yang dialami jantung Anda.

Untuk mengobati kondisi ini, dokter Anda kemungkinan akan menggunakan alat defibrilator sebagai stimulator detak jantung Anda.

Sengatan listrik dari defibrilator seringkali dapat mengembalikan jantung ke ritme normal.

Tes lain juga dapat digunakan setelah Anda mengalami kejadian jantung:

  • Tes darah dapat digunakan untuk mencari tanda-tanda hentu jantung. Tes ini juga dapat mengukur kadar kalium dan magnesium
  • Rontgen dada (X-ray) dapat mencari tanda-tanda penyakit jantung lainnya

Cara mengobati henti jantung

CPR termasuk salah satu bentuk perawatan darurat untuk henti jantung.

Defibrilasi adalah hal lain. Perawatan ini dilakukan untuk membuat jantung berdetak lagi setelah berhenti.

Jika Anda selamat dari henti jantung, dokter Anda mungkin memulai dengan satu atau lebih perawatan untuk mengurangi risiko serangan lain.

  • Obat-obatan dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan kolesterol
  • Pembedahan dapat memperbaiki pembuluh darah atau katup jantung yang rusak. Itu juga dapat memotong atau menghilangkan penyumbatan di arteri
  • Olahraga dapat meningkatkan kebugaran kardiovaskular
  • Perubahan pola makan dapat membantu menurunkan kolesterol

Kondisi jantung yang dapat menyebabkan henti jantung

Henti jantung mendadak dapat terjadi pada orang yang tidak memiliki penyakit jantung yang diketahui.

Namun, aritmia penyebab henti jantung biasanya berkembang pada seseorang dengan masalah jantung yang sudah ada sebelumnya.

Melansir Mayo Clinic, berikut adalah beberapa gangguan jantung yang bisa menjadi faktor risiko henti jantung:

1. Penyakit arteri koroner

Sebagian besar kasus henti jantung mendadak terjadi pada orang yang memiliki penyakit arteri koroner, di mana arteri menjadi tersumbat oleh kolesterol dan endapan lainnya, sehingga mengurangi aliran darah ke jantung.

2. Serangan jantung

Jika serangan jantung terjadi, seringkali sebagai akibat dari penyakit arteri koroner yang parah, hal itu dapat memicu fibrilasi ventrikel dan serangan jantung mendadak.

Selain itu, serangan jantung dapat meninggalkan jaringan parut di jantung seseorang.

Arus pendek listrik di sekitar jaringan parut dapat menyebabkan kelainan pada irama jantung.

3. Pembesaran jantung (kardiomiopati)

Kardiomiopati terjadi terutama ketika dinding otot jantung meregang dan membesar atau menebal.

Kemudian otot jantung Anda tidak normal, suatu kondisi yang sering menyebabkan aritmia.

4. Penyakit jantung katup

Kebocoran atau penyempitan katup jantung dapat menyebabkan peregangan atau penebalan otot jantung.

Ketika bilik menjadi membesar atau melemah karena tekanan yang disebabkan oleh katup yang kencang atau bocor, ada peningkatan risiko terkena aritmia.

5. Cacat jantung hadir saat lahir (penyakit jantung bawaan)

Bila henti jantung mendadak terjadi pada anak-anak atau remaja, bisa jadi karena penyakit jantung bawaan.

Orang dewasa yang telah menjalani operasi korektif untuk cacat jantung bawaan masih memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung mendadak.

6. Masalah elektrik di jantung

Pada beberapa orang, masalahnya ada pada sistem kelistrikan jantung itu sendiri, bukan masalah pada otot atau katup jantung. Kondisi ini disebut kelainan irama jantung primer dan termasuk kondisi seperti sindrom Brugada dan long QT syndrome.

Jika Anda telah didiagnosis memiliki gangguan jantung, selalu bekerjasamalah dengan dokter untuk mencegah keparahan.

https://health.kompas.com/read/2021/09/05/110100368/3-gejala-henti-jantung-yang-perlu-diwaspadai

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke