Kompas.com - 08/02/2013, 13:10 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Jumlah bayi kembar yang mengalami cacat lahir mengalami peningkatan cukup pesat di 14 negara Eropa. Angkanya mencapai 11 dari 10.000 kelahiran kembar.

Demikian menurut data 5,4 juta kelahiran yang terjadi selama 24 tahun terakhir. Angka cacat lahir tersebut naik hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya hanya 6 dari 10.000 kelahiran.

Helen Dolk, peneliti senior dari Center for Maternal Fetal and Infant Research, Irlandia Utara, mengatakan angka kelahiran kembar memang meningkat pesat sehingga risiko cacat lahir pada bayi lebih besar.

Penelitian terbaru itu dimuat dalam BJOG: An International Journal of Obstretics and Gynecology, yang melihat tren kelahiran di 14 negara Eropa antara tahun 1984 dan 2007.

Dalam kurun waktu tersebut angka kelahiran kembar naik sekitar 50 persen. Bahkan 3 persen dari 5,4 juta kelahiran adalah kelahiran kembar. Tercatat pula 148.359 cacat lahir dan 4 persen ditemukan pada bayi kembar.

Para peneliti mengatakan peningkatan kelahiran kembar terjadi karena banyak pasangan yang memilih metode bayi tabung. Dalam metode bayi tabung biasanya embrio yang ditanam ke rahim lebih dari satu.

Meski bayi tabung tidak meningkatkan risiko cacat lahir, tetapi kehamilan bayi kembar meningkatkan risiko kesehatan kehamilan dan persalinan.

"Perlu ditegaskan bahwa risiko tersebut rendah. Kebanyakan bayi yang lahir dari metode bayi tabung dan kehamilan kembar sehat. Tetapi ada sejumlah alasan mengapa transfer embrio tunggal lebih baik dibanding multi embrio," kata Dolk.

Secara umum ia merekomendasikan agar pasangan yang ingin hamil menyiapkan diri dengan baik dan rutin memeriksakan diri untuk mencegah kecacatan bayi.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengapa Kita Mengantuk Setelah Makan?

Mengapa Kita Mengantuk Setelah Makan?

Health
4 Cara Mengatasi Overthingking

4 Cara Mengatasi Overthingking

Health
8 Cara Menghilangkan Mata Ikan secara Alami dan dengan Bantuan Obat

8 Cara Menghilangkan Mata Ikan secara Alami dan dengan Bantuan Obat

Health
Bagaimana Cara Menyusui Bayi?

Bagaimana Cara Menyusui Bayi?

Health
Manfaat Pemberian ASI Bagi Bayi dan Ibu

Manfaat Pemberian ASI Bagi Bayi dan Ibu

Health
7 Manfaat Vitamin B Kompleks untuk Kesehatan

7 Manfaat Vitamin B Kompleks untuk Kesehatan

Health
12 Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Mengatasinya

12 Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Mengatasinya

Health
Apa yang Perlu Diketahui dari Kasus Hepatitis Misterius pada Anak?

Apa yang Perlu Diketahui dari Kasus Hepatitis Misterius pada Anak?

Health
Bagaimana Mencegah Penularan Cacar Monyet?

Bagaimana Mencegah Penularan Cacar Monyet?

Health
Cara Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Cara Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Health
Jangan Sampai Kecolongan, Gejala Kanker Usus Bisa Dilihat dari Feses

Jangan Sampai Kecolongan, Gejala Kanker Usus Bisa Dilihat dari Feses

Health
Tips untuk Menjaga Kesehatan Usus

Tips untuk Menjaga Kesehatan Usus

Health
7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

Health
6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

Health
5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.