Kompas.com - 31/05/2014, 08:09 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Pada tahun 1980, ada 857 juta orang yang kegemukan dan obesitas di dunia. Kini jumlah itu melonjak menjadi 2,1 miliar, atau hampir 30 persen dari populasi dunia menderita kegemukan atau obesitas.

Demikian menurut kesimpulan studi terbaru yang dimuat dalam jurnal The Lancet. Salah satu hal yang mengkhawatirkan adalah dalam 33 tahun terakhir ini belum ada satu negara pun yang melakukan upaya signifikan untuk menurunkan angka obesitas ini.

Studi yang dilakukan tim dari Universitas Washington AS ini menggunakan data dari 188 negara yang dikumpulkan antara tahun 1980 dan 2013. Hasilnya diketahui jumlah orang dewasa yang kegemukan dan obesitas meningkat 28 persen dalam 33 tahun. Pada anak-anak, angkanya naik 47 persen.

Angka obesitas pada pria paling banyak terdapat di Selandia Baru, Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Sementara itu pada wanita angka tertinggi ada di Mesir, Arab Saudi, Oman, Honduras, dan Bahrain.

Di Amerika Serikat, pada tahun 2013 sepertiga pria dan wanita mengalami obesitas. Tetapi di Afrika Selatan 42 persen wanita kelebihan berat badan dan di Tonga 50 persen orang dewasa sangat kegemukan.

Memang dalam studi tersebut tidak disebutkan faktor apa yang menyebabkan peningkatkan jumlah penduduk obesitas. Namun, pola makan yang buruk, kurang aktivitas fisik, dan metabolisme, merupakan penyebab tersering kegemukan.

Melihat tren obesitas di seluruh dunia, para peneliti mengatakan target organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk menghentikan laju obesitas pada tahun 2025 adalah sesuatu yang ambisius jika tidak dibarengi dengan aksi yang tepat.

Bukan hanya itu, tren obesitas juga berlanjut di negara berkembang. Saat ini diperkirakan dua dari tiga penduduk di negara-negara berkembang sudah obesitas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber The Verge

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.