Kompas.com - 11/06/2014, 15:20 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Daging merah memang merupakan sumber protein dan zat besi yang baik, namun banyak riset juga menunjukkan sering mengasup makanan ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan beberapa penyakit lainnya. Sebuah studi baru bahkan menunjukkan terjadinya peningkatan risiko kanker payudara.

Studi tersebut melakukan analisis terhadap hampir 89.000 orang wanita selama 20 tahun. Menurut peneliti, wanita yang makan daging merah paling banyak memiliki risiko penyakit jantung 25 persen lebih tinggi daripada wanita yang makan daging merah paling sedikit.

Di sisi lain, studi juga menemukan, mengganti sajian daging merah dengan kombinasi ikan, kacang-kacangan, dan daging ayam dapat mengurangi risiko kanker payudara hingga 14 persen.

Peneliti studi Maryam Farvid mengatakan, mengurangi daging olahan, membatasi konsumsi daging merah, dan mengganti daging merah dengan kombinasi daging ayam, kacang-kacangan, dan ikan sebagai sumber protein sepertinya bermanfaat untuk pencegahan kanker payudara.

Dibandingkan dengan wanita yang makan satu porsi daging merah per minggu, wanita yang makan 1,5 porsi per hari memiliki risiko kanker payudara 22 persen lebih tinggi. Setiap penambahan satu porsi daging merah per hari akan meningkatkan risiko kanker payudara sebesar 13 persen.

Berdasarkan hasil studi, peneliti menemukan, konsumsi lebih banyak daging ayam akan mengurangi risiko tersebut. Mengganti satu sajian daging ayam untuk daging merah setiap harinya akan mengurangi risiko 17 persen secara keseluruhan, dan 24 persen untuk wanita yang sudah menopause.

Selain itu, mengurangi konsumsi daging merah tidak hanya menekan risiko kanker payudara, tetapi juga risiko penyakit lainnya, seperti penyakit jantung koroner, stroke, diabetes, dan jenis-jenis kanker lainnya.

Kendati demikian, studi yang dipublikasi dalam British Medical Journal tersebut belum dapat menjelaskan alasan biologis kenapa daging merah dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Diperkirakan, penyebabnya adalah produk yang terbentuk dari proses pemasakan daging merah. Hormon pertumbuhan yang disuntikkan pada hewan ternak juga bisa jadi penyebabnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
Sumber HEALTHDAY

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.