Kompas.com - 04/11/2015, 14:19 WIB
EditorLusia Kus Anna

Lalu, ia disarankan melakukan nailing atau pemasangan sejenis pelat atau paku pada tulang patah. Namun, metode itu berisiko jika kondisi tulangnya tak mendukung. Lalu, ia dianjurkan menjalani terapi sel punca di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Meski sempat ragu karena terapi itu baru di Indonesia, ia berani mencoba setelah tahu ada aturan Menteri Kesehatan yang mengatur terapi sel punca. Terapi dilakukan dengan mengambil sel punca dari sumsum tulang belakangnya.

Hasilnya, "Dulu saya harus jalan memakai kruk (tongkat). Kini, saya bisa jalan tanpa kruk sambil menggendong anak," ujarnya.

Penyakit degeneratif

Terapi sel punca mulai dikembangkan di dunia pada 1996 dan di Indonesia pada 2007. Terapi dilakukan dengan menyuntikkan sel punca ke pasien untuk memperbaiki organ atau jaringan tubuh yang rusak.

Sel punca bisa diambil dari embrio, darah tali pusat bayi baru lahir dan dari orang dewasa. Sel punca embrio belum dikembangkan di Indonesia karena etikanya diperdebatkan. Sel punca dewasa bisa diambil dari tubuh pasien sendiri (autologous) atau orang lain (allogenic).

"Sel punca dari embrio dan darah tali pusat potensinya amat besar, tetapi risiko tumbuh ke arah keganasan besar," kata Andri Lubis, Kepala Bagian Penelitian RSCM yang juga pengembang terapi sel punca tulang rawan.

Tingkat penolakan sel punca yang diambil dari tubuh pasien jauh lebih kecil daripada diambil dari orang lain.

Sel punca bisa untuk terapi penyakit degeneratif atau terkait penurunan fungsi tubuh, mutasi dan keganasan sel. Beberapa penyakit yang bisa diterapi adalah jantung koroner, pelemahan pompa jantung, diabetes melitus, stroke, parkinson, kanker, dan gangguan tulang.

"Semua penderita penyakit degeneratif bisa diterapi dengan sel punca, tak ada batasan usia," kata Sekretaris Pusat Kedokteran Regeneratif dan Sel Punca Surabaya yang juga dokter penyakit dalam pengembang sel punca RSUD dr Soetomo Purwati. Pemeriksaan oleh dokter menentukan bisa tidaknya seseorang diterapi sel punca.

Karena masih tahap riset di seluruh dunia, terapi sel punca belum jadi layanan standar. Banyak aspek terapi perlu dioptimalkan dan diteliti sebelum diterapkan pada layanan rutin. Akibatnya, biaya terapi belum ditanggung asuransi kesehatan.

Namun, biaya terapi di Indonesia jauh lebih murah dibanding di Tiongkok, apalagi di Eropa. Bahkan, sejumlah pasien bisa dibiayai dari dana riset.

Meski demikian, mutu terapi sel punca di Indonesia tak kalah dibandingkan negara lain. Dari 379 pasien yang diterapi di RSUD dr Soetomo, perbaikan pasien diabetes 30-100 persen dan nyeri sendi lutut 60-70 persen. Perbaikan pasien stroke 50 persen dan penyakit jantung 60- 80 persen. Hal serupa ditunjukkan peserta terapi di RSCM.

Meski menjanjikan, pasien perlu cermat menerima tawaran terapi sel punca. Di Indonesia, terapi baru dikembangkan di RSCM dan RSUD dr Soetomo. Klaim keberhasilan tanpa ditopang riset memadai perlu diwaspadai.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.