Kompas.com - 14/04/2016, 18:11 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Semakin populernya skateboard selama beberapa dekade terakhir, nyatanya diikuti dengan “efek samping” yang berbahaya yaitu peningkatan cedera, papar sebuah studi baru.

Dalam setiap tahun antara tahun 1990 dan 2008, sekitar 65.000 anak-anak dan remaja di AS terpaksa masuk ke ruang gawat darurat akibat cedera yang berhubungan dengan skateboard.

Sebagian besar (89 persen) dari pemain skateboard yang terluka adalah laki-laki, para peneliti menemukan. Patah tulang dan dislokasi sendi adalah cedera yang paling umum. Keseleo atau salah urat menyumbang 25 persen jumlah cedera. Sedangkan memar-memar menyumbang 20 persen jumlah cedera.

Para peneliti juga menemukan, bahwa anak-anak yang lebih tua lebih mungkin untuk mengalami cedera parah dibandingkan anak-anak yang lebih muda. Mereka lebih mungkin untuk memiliki luka pada wajah, kepala, atau leher.

“Olahraga roda yang membutuhkan keseimbangan dan berlangsung pada permukaan keras seperti skateboard lebih mungkin untuk membuat cedera,” kata Lara McKenzie, seorang peneliti di Pusat Penelitian Cedera di Rumah Sakit Anak di Columbus, Ohio, dan penulis utama studi tersebut.

McKenzie dan ahli keamanan olahraga lainnya merekomendasikan beberapa tips untuk mencegah cedera akibat skateboard:

1. Jangan biarkan anak-anak bermain skateboard tanpa memakai alat pelindung lengkap, yang meliputi helm, pelindung tangan, siku dan lutut.

2. Patikan anak bermain pada permukaan yang rata dan hindari bermain di jalan umum yang banyak mobil atau kendaraan lain.

3. Jangan biarkan anak-anak main skateboard jika hari sudah gelap atau cuaca buruk.

4. Anak-anak di bawah 6 tahun belum memiliki keseimbangan yang baik untuk bermain skateboard. Dan untuk anak-anak usia 6 dan 10, orang dewasa harus mengawasi setiap kali mereka bermain.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Cacingan
Cacingan
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Punya Fantasi Seks Tak Realistis? Bisa Jadi Gejala Narsisme Seksual

Punya Fantasi Seks Tak Realistis? Bisa Jadi Gejala Narsisme Seksual

Health
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Penyakit
Bagaimana Posisi Tidur Agar Bayi Tidak Sungsang?

Bagaimana Posisi Tidur Agar Bayi Tidak Sungsang?

Health
Sindrom Nefrotik

Sindrom Nefrotik

Penyakit
Selain Kecanduan, Pengguna Ganja Lebih Berisiko Alami Stroke

Selain Kecanduan, Pengguna Ganja Lebih Berisiko Alami Stroke

Health
Coxsackie

Coxsackie

Penyakit
Demam saat Haid, Apakah Normal?

Demam saat Haid, Apakah Normal?

Health
Hipotensi Ortostatik

Hipotensi Ortostatik

Penyakit
Apa Bahaya Sering Menahan Kencing?

Apa Bahaya Sering Menahan Kencing?

Health
Sindrom ACA

Sindrom ACA

Penyakit
Benarkah Nasi Tidak Boleh Dipanaskan Lagi?

Benarkah Nasi Tidak Boleh Dipanaskan Lagi?

Health
Astrositoma

Astrositoma

Penyakit
4 Penyebab Kram pada Tangan

4 Penyebab Kram pada Tangan

Health
Divertikulum Meckel

Divertikulum Meckel

Penyakit
8 Penyebab Gatal Tanpa Ruam pada Kulit, Bisa Jadi Gejala Kanker

8 Penyebab Gatal Tanpa Ruam pada Kulit, Bisa Jadi Gejala Kanker

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.