Kamis, 24 Juli 2014 23:27

LIFESTYLE / SEKS - ARTIKEL

Mitos vs Fakta Penyakit Menular Seksual

Selasa, 13 Maret 2012 | 13:50 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock
Hubungan seks adalah bentuk ekspresi cinta kepada pasangan.

KOMPAS.com - Seberapa luas pengetahuan Anda mengenai Penyakit Menular Seksual (PMS)? Mungkin saja yang selama ini Anda pikirkan benar ternyata salah total. 

Nah, berikut ini ada delapan mitos dan fakta menyangkut Penyakit Menular Seksual. Dengan menyimak paparan ini, diharapkan pengetahuan Anda soal penyakit menular bakal bertambah.

Mitos ke - 1. Saya tidak mungkin terkena PMS karena setiap kali melakukannya dengan pasangan, saya tidak pernah melakukan secara total sampai penetrasi, hanya berciuman dan oral seks sekali - sekali.
Faktanya : Anda sangat salah bila berpikir seperti itu! Penyakit karena hubungan seksual bisa menular baik melalui vagina, anal, maupun oral seks. Apalagi jika ada luka terbuka yang tidak terlihat dan ternyata pasangan Anda mempunyai penyakit tersebut, risiko tertular akan tetap ada. Ingatlah bahwa meski frekuensi Anda bermain cinta dengan sang pasangan hanya sekali - sekali tapi tetap bisa tertular, penyakit tidak memandang sering atau tidaknya frekuensi Anda bermain dengan pasangan!

Mitos ke - 2. Saya tidak mungkin bisa terkena PMS soalnya saya menggunakan pil KB.
Faktanya : Para pasangan, catat ini : Pil KB hanya melindungi dari risiko kehamilan dan bukan PMS. Anda tetap bisa tertular jika anda melakukan hubungan seks meskipun menggunakan pil KB.

Mitos ke-3. Saya tidak memerlukan pengaman meskipun pasangan saya menderita herpes karena kita selalu hati - hati kok dalam berhubungan. Kita menghindari aktivitas bercinta saat herpesnya sedang kambuh dan ada luka terbuka.
Faktanya : Pernyataan diatas tidak benar. Anda tetap bisa tertular meskipun herpes ini dalam keadaan tidak kambuh. Ingatlah satu hal, herpes ini ada dalam tubuh dan tertidur saat tidak kambuh, tapi bukan berarti tidak ada, jadi akan lebih baik jika Anda tetap menggunakan pengaman saat berhubungan dan mungkin akan lebih baik bagi pasangan agar berkonsultasi secara reguler ke dokternya untuk pengontrolan herpesnya.

Mitos ke-4. Saya belakangan ini tertular penyakit menular seksual tapi saya sudah ke dokter dan minum obat kok, jadi tidak perlu datang lagi untuk dicek ulang.
Faktanya: Memang untuk pengobatan ke dokter dan minum obatnya sampai habis haruslah dilakukan.  Tapi sayang sekali saya harus mengecewakan Anda karena ada tindakan yang tidak benar yaitu Anda tidak mengecek ulang kembali penyakit Anda!  Ketahuilah meskipun Anda sudah minum obatnya sampai habis, infeksi bisa saja masih tetap ada dan bisa jadi Anda harus meneruskan obat untuk beberapa lama lagi. Satu - satunya cara untuk mengetahui infeksinya sudah membaik ataupun hilang adalah dengan mengecek ulang dan temui dulu dokter Anda, pastikan semuanya tuntas diperiksa ulang.

Mitos ke-5. Saya tidak mungkin punya penyakit menular seksual karena tidak ada gejalanya yang pernah muncul
Faktanya : Perlu diketahui dan diingat oleh Anda semua, Anda bisa saja mempunyai penyakit menular seksual dan gejala tidaklah timbul. Gejalanya bisa saja tidak Anda sadari karena kelihatan seperti penyakit flu biasa atau gejala penyakit lainnya. Maka dari itu, bila Anda seorang yang aktif secara seksual sebaiknya seringlah melakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahuinya.

Mitos ke - 6. Saya sekarang sedang mengalami keputihan vagina dan agak gatal, tapi saya merasa belum perlu ke dokter karena masih bisa mengobati sendiri memakai obat yang dijual bebas untuk infeksi jamur vagina di apotik atau di toko - toko kesehatan.
Faktanya : Para wanita, lebih baik Anda mencatat ini di dalam hati : keputihan belum tentu karena jamur,bisa saja karena infeksi dalam vagina karena bakteri, atau hal lainnya dan jelas pengobatan setiap penyakit berbeda - beda bila penyebabnya berbeda oleh karena itu, jangan diobati sendiri jika Anda tidak yakin apa penyebabnya, bisa jadi pengobatan yang Anda lakukan tanpa memeriksakan terlebih dahulu akan menambah problem bila ternyata Anda salah mengobati.

Mitos ke-7. Saya merasa saya terkena penyakit menular seksual tapi saya terlalu takut untuk ke dokter dan saya tidak terlalu khawatir untuk penyakit saya, tinggal datang saja ke apotik membeli antibiotik atau apa deh, pasti bisa sembuh.
Faktanya: Duh, ini merupakan kesalahan yang sangat besar bagi Anda semua bila berpikir seperti ini, perlu Anda ketahui, tidak semua penyakit seksual disembuhkan dengan memakai antibiotik, apalagi obat yang tidak sesuai dengan penyakitnya. Anda bisa terkena komplikasi penyakit seksual yang lebih berat atau bahkan bisa jadi Anda baru datang saat si penyakit sudah lebih parah dan akan lebih sulit untuk diobati. Jadi jangan takut ke dokter karena dokter sudah terlatih untuk melihat berbagai macam hal, termasuk urusan satu ini, jadi periksakan diri Anda dan jelaskan situasi yang Anda hadapi. Percayalah, ini jauh lebih baik daripada Anda mengobati sendiri dan ternyata salah pengobatan.

Mitos ke-8. Saya cuma bercinta dengan pasangan saya kok dan itupun hanya dia seorang, jadi rasanya saya tidak perlu khawatir mengenai penyakit seksual.
Faktanya : Hubungan monogami memang baik, tapi perlu Anda pikirkan, berapa banyak yang melakukan hubungan seks dengan pasangan Anda sebelum Anda bersama dia? Meskipun dia mengatakan Andalah satu - satunya yang pertama untuk dia, tapi bisa jadi dia tidak mengatakan yang sebenarnya di depan Anda. Salah satu cara untuk memastikannya adalah dengan melakukan pemeriksaan mengenai penyakit menular seksual. Mungkin Anda melakukan hubungan seks dengan memakai kondom untuk mencegah penularan, tapi kondom hanya mengurangi risiko penularan dan bukanlah mencegah Anda terkena penyakit tersebut, bisa saja kondisi yang tidak diharapkan terjadi meskipun Anda memakai kondom.

Jadi? Seberapa banyak pemikiran Anda yang benar untuk penyakit menular seksual? Semoga tips ini bisa membantu Anda mengerti lebih banyak sehingga tidak ada lagi salah pengertian mengenai penyakit seksual. (dr.Intan Airlina Febiliawanti)


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui