Kompas.com - 02/08/2013, 10:11 WIB
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com — Lelah adalah kondisi saat energi kita terkuras habis, tenaga kita jauh berkurang dan saat kita paling membutuhkan istirahat. Kelelahan tidak hanya bersifat fisik, tapi bisa juga secara psikis. Ketika emosi dan pikiran kita tersedot habis untuk memikirkan masalah keluarga, pekerjaan, ekonomi rumah tangga dan sebagainya.

Jika kelelahan terlalu sering dan dibiarkan dalam jangka waktu yang lama dapat merusak kesehatan baik fisik maupun psikis. Tubuh manusia normalnya bekerja antara 8 sampai 10 jam. Itu pun perlu istirahat sewaktu-waktu. Jika dipaksakan membahayakan kesehatan.

Salah satu sumber kelelahan psikis adalah jika kita mengerjakan pekerjaan yang tidak kita sukai. Apalagi setiap hari, bekerja tanpa motivasi dan kecerdasan emosi memadai.

Sindrom kelelahan bukan hal biasa, jadi jangan dianggap remeh. Tubuh manusia sudah dirancang untuk bekerja dan juga beristirahat. Oleh karena itu, penting artinya menjaga keseimbangan.

Pada masa kini sebagian orang mengabaikan pentingnya istirahat, baik sengaja maupun tidak. Baik demi tuntutan ekonomi, tuntutan perusahaan, hingga ada yang mengidap gangguan "candu kerja" (workaholic).

Akibatnya mereka yang sibuk bekerja tanpa istirahat cukup bisa mengidap sindrom kelelahan. Overload dengan pekerjaan. Yang biasa ditandai dengan cepat marah, susah tidur, hingga gangguan psikosomatis lainnya.

Mereka yang terlalu lelah sulit menikmati makan dengan enak, enggan berelasi dan berekreasi dengan keluarga. Bahkan merusak hubungan romantis dengan pasangan. Tiba di rumah, mereka hanya ingin beristirahat dan menyendiri dengan kesenangannya. Tidak mau diganggu pasangan atau anaknya.

Tentu ini membuat seisi rumah merasa tidak nyaman. Anak-anak kehilangan waktu bermain dengan ayah atau ibunya. Istri merasa diabaikan suaminya, atau sebaliknya. Jika anak atau pasangan minta waktu, maka reaksi utama mereka yang kena sindrom kelelahan adalah marah. Sensitif dan mudah tersinggung.

Kelelahan juga bisa menimbulkan penyakit fisik. Tubuh yang kurang istirahat tidak sempat mengalami penyegaran. Belum lagi ditambah masalah mereka yang di kota besar seperti Jakarta yakni kemacetan. Jarak tempuh yang jauh dari rumah ke tempat bekerja. Jika bekerja sehari delapan jam, ditambah 3-4 jam di perjalanan, maka individu menghabiskan setidaknya sebelas hingga dua belas jam sehari. Belum lagi jika yang bersangkutan lembur karena tuntutan perusahaan. Jika kondisi ini berlangsung berbulan-bulan dan bertahun-tahun akan membahayakan.

Belum lagi mereka yang (terlalu) menyibukkan diri dalam kegiatan sosial dan ibadah. Ini dapat memperparah sindrom kelelahan tadi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Sumber Kompasiana

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.