Bayi Prematur Cenderung Alami Gangguan Perkembangan

Kompas.com - 28/09/2013, 17:38 WIB
Ilustrasi bayi prematur. miraclebaby.co.ukIlustrasi bayi prematur.
|
EditorWardah Fazriyati
KOMPAS.com - Bayi prematur yang termasuk dalam bayi berisiko tinggi, cenderung mengalami gangguan perkembangan. Realitasnya, 50 persen bayi prematur mengalami berbagai gangguan perkembangan. Bentuk gangguannya bisa berbeda satu dengan lainnya. Seperti keterampilan tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, bicara atau perkembangan lainnya.  

Lantaran bayi prematur berisiko tinggi atas terjadinya gangguan perkembangan, orangtua semestinya memberikan perhatian ekstra. Orangtua perlu lebih waspada jika ada satu saja dari milestone perkembangan anak yang terlewati.

"Pemantauan orangtua kepada perkembangan bayi prematur memang harus lebih ekstra. Orangtua perlu lebih waspada, karena kenyataanya 50 persen bayi prematur mengalami gangguan perkembangan," ungkap dr Amendi Nasution, SpKFR (K) Rehab Medis Anak di Klinik Tumbuh Kembang Brawijaya, Kemang, Jakarta, Sabtu (28/9/2013).

Jika orangtua menemukan adanya keterlambatan perkembangan pada bayi prematur, sebaiknya segera lakukan intervensi. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan pemeriksaan ke dokter ahli, untuk dilakukan observasi. Sebaiknya lakukan pemeriksaan menyeluruh yang melibatkan tim dokter. Untuk bayi berisiko tinggi, dokter anak sub spesialisasi pediatri sosial biasanya terlibat dalam observasi.

"Sebenarnya orangtua bisa melakukan stimulasi di rumah jika menemui adanya gangguan perkembangan pada bayi prematur. Namun, sebaiknya bayi prematur segera diobservasi oleh dokter ahli," ungkapnya.

Setelah observasi, dokter akan mendiagnosa apakah perlu melakukan terapi, dan menentukan jenis terapi sesuai gangguan yang dialami bayi.

Menurut dr Amendi, jenis terapi bergantung pada kondisi bayi. Namun, umumnya bayi yang mengalami gangguan keterlambatan menjalani terapi sensori integrasi.

Bayi yang mengalami gangguan perkembangan, jika mendapatkan penanganan tepat, bisa mengejar ketertinggalannya. Tak terkecuali bayi berisiko tinggi seperti bayi prematur.

Meski begitu, untuk bayi prematur kemampuan mengejar ketertinggalan sangat bergantung pada kondisinya saat lahir. Apakah bayi prematur lahir dengan kondisi berat badan sangat rendah, di bawah dua kilogram misalnya. Selain dilihat juga dari usia kehamilan ibu saat melahirkan bayi belum cukup bulan.

Selain bayi prematur, gangguan perkembangan juga kerap dialami bayi berisiko tinggi lainnya seperti bayi berat lahir rendah atau BBLR, juga bayi dengan penyakit jantung bawaan.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X