Kompas.com - 14/01/2014, 11:12 WIB
Ilustrasi mimpi ShutterstockIlustrasi mimpi
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com - Mengapa kita bermimpi? Pertanyaan inilah yang menjadi ilham dimulainya kedokteran tidur. Di akhir 1950-an William Dement, seorang psikiater muda, tertarik mempelajari mimpi dan mengikuti satu-satunya guru yang meneliti tentang tidur Nathaniel Kleitman.

Kleitman dan Aserinsky dikenal sebagai penemu tahapan tidur Rapid Eye Movements (REM) dimana kebanyakan mimpi berada. Selanjutnya Dement, yang kini dikenal sebagai Bapak Kedokteran Tidur, meneliti lebih jauh tentang tahapan tidur dan mimpi.

Pengetahuan Mimpi

Hingga kini, penelitian tentang mimpi masih terus berlangsung, tetapi para ahli masih belum bisa menjawab pertanyaan mendasar tentang mengapa kita bermimpi. Ada beberapa teori yang diajukan, tetapi kata sepakat belum juga bisa dicapai.

Penelitian tidur mimpi sebenarnya sederhana saja. Penemuan awalnya adalah lewat perekaman gelombang otak tidur dan gerakan bola mata. Ketika seseorang mencapai gelombang otak tertentu yang disertai dengan gerak cepat bola mata, orang tersebut dibangunkan lalu ditanya apa yang dia ingat. Demikian juga setelah lewat dan memasuki tahap tidur lain. Hasilnya saat masuk REM, seseorang ingat jelas tentang mimpi. Sedangkan ketika sudah lewat, ingatan  mimpi akan semakin pudar.

Penelitian lainnya dengan sengaja mengurangi tidur REM seseorang dan melihat efeknya di siang hari. Beberapa penelitian membuktikan bagaimana kekurang tidur REM berefek langsung pada kemampuan kognitif dan stabilitas emosional manusia. Kemampuan belajar, konsentrasi, ketelitian dan kreativitas berhubungan langsung dengan tidur REM.

REM

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

William Dement menekankan pentingnya mimpi bagi manusia modern. Dement percaya bahwa tidur REM adalah yang terpenting karena menjaga kewarasan, dan menumbuhkan kemampuan otak. Kemampuan otak dan kebahagiaan adalah kunci utama kelangsungan hidup manusia masa kini.

Sedemikian pentingnya tidur REM, bayi yang baru lahir 50 persen tidurnya berada pada tahap tidur ini, sedangkan manusia dewasa hanya 20-25 persen saja. Pada bayi yang lahir prematur, kira-kira 80 persen gelombang otaknya menunjukkan frekuensi yang sama dengan gelombang otak REM.

Begitu juga saat kita kekurangan tidur, malam berikutnya tidur REM seolah ‘balas dendam’ dengan memperbanyak tidur mimpi. Bahkan ketika kita sedang dalam kondisi kurang tidur yang parah, begitu tertidur bisa terjadi campur aduk tidur mimpi dengan kondisi terjaga. Akibatnya kita setengah sadar namun setengah mimpi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber Kompasiana
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Aneurisma Aorta

Aneurisma Aorta

Penyakit
Mengenal Apa Itu Metode ERACS dan Manfaatnya Usai Persalinan

Mengenal Apa Itu Metode ERACS dan Manfaatnya Usai Persalinan

Health
Bisinosis

Bisinosis

Penyakit
Cara Mencegah dan Mengatasi Sakit Leher

Cara Mencegah dan Mengatasi Sakit Leher

Health
Penis Patah

Penis Patah

Penyakit
8 Cara Mengatasi Susah Kentut dengan Obat dan secara Alami

8 Cara Mengatasi Susah Kentut dengan Obat dan secara Alami

Health
Emfisema

Emfisema

Penyakit
3 Perbedaan Demensia dan Alzheimer, Jangan Keliru Membedakannya

3 Perbedaan Demensia dan Alzheimer, Jangan Keliru Membedakannya

Health
OCD

OCD

Penyakit
Mengenal Cardiac Angiosarcoma, Kanker Langka yang Menyerang Jantung

Mengenal Cardiac Angiosarcoma, Kanker Langka yang Menyerang Jantung

Health
Barotrauma Telinga

Barotrauma Telinga

Penyakit
Bisakah Kehamilan Terjadi Tanpa Penetrasi?

Bisakah Kehamilan Terjadi Tanpa Penetrasi?

Health
Flu Babi

Flu Babi

Penyakit
Gangguan Kepribadian Ganda (DID)

Gangguan Kepribadian Ganda (DID)

Penyakit
5 Gejala Sembelit yang Perlu Diwaspadai

5 Gejala Sembelit yang Perlu Diwaspadai

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.