Kompas.com - 14/01/2014, 11:12 WIB
|
EditorAsep Candra

Tidur REM punya dua ciri khas, yaitu adanya mimpi, dan lumpuhnya tubuh yang disebut dengan sleep paralysis. Kelumpuhan dimaksudkan untuk melindungi kita agar tak bergerak-gerak mengikuti skenario mimpi.

Dalam kondisi setengah bermimpi dan setengah sadar, yang kita alami adalah halusinasi sosok lain di dekat kita. Sosok yang muncul berbeda pada setiap orang. Untuk orang Indonesia biasanya berupa sosok hantu yang menyeramkan. Kondisi diperparah oleh kelumpuhan tidur, yang membuat kita dalam ketakutan tak bisa bergerak untuk melarikan diri. Fenomena yang secara tradisional dikenal dengan sebutan ketindihan atau ereup-ereup ini sama sekali tak mematikan.

Tapi tak boleh diabaikan karena menunjukkan kondisi kurang tidur yang parah.
Kondisi kurang tidur yang parah menyimpan potensi berbahaya ketika berkendara atau mengoperasikan alat berat. Bukan hanya bahaya tertidur, tapi juga bahaya berkurangnya konsentrasi, kewaspadaan serta kemampuan refleks. Para ahli juga kini menyadari bagaimana kekurangan tidur menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan kadar gula dan tekanan darah serta risiko penyakit-penyakit jantung.

Mimpi

Beberapa orang beranggapan bahwa bermimpi membuatnya lelah dan tak dalam kualitas tidurnya. Ini salah! Pertama, saat tidur, pada tahap apa pun, tubuh dan otak kita selalu aktif. Gelombang otak berganti-ganti tahapan. Tubuh juga sibuk perbaiki diri. Kedua, yang membuat lelah bukanlah banyak mimpinya, tapi gangguan tidur yang dideritanya. Karena ingat, mimpi jadi intens saat kita kekurangan tidur.

Siapa pun, setiap malamnya bisa bermimpi 4-6 kali. Yang membedakan hanya ingat atau tidak akan mimpinya. Tak ingat isi mimpi bukan berarti tak bermimpi.
Tidur mimpi membangun kemampuan otak. Jelas ini sangat penting bagi produktivitas manusia modern.

Salah satu kemampuan yang dibangun adalah kreativitas, tetapi mimpi sendiri bisa sangat kreatif. Maksudnya, tak jarang para pencipta mendapatkan idenya dari sebuah mimpi. Sebut saja Mary Shelley yang menuangkan isi mimpinya dalam novel Frankenstein.

Mimpi juga dapat memberikan kesempatan mengalami suatu kejadian tanpa harus mengalaminya sungguh-sungguh. William Dement sendiri pernah mengalaminya. Pada suatu mimpi, ia mendapati dirinya terdiagnosis dengan kanker paru. Ia terbatuk-batuk darah, nyeri dan harus menjalani segala perawatan medis. Kejadian bermingu-minggu ia alami dalam satu episode mimpi yang mungkin hanya berlangsung 20 menit saja. Tapi pengalaman mimpi ini jadi sangat bermakna, karena di pagi harinya ia langsung memutuskan untuk berhenti merokok!

Walau belum dapat dijelaskan menyeluruh, mimpi jelas bermanfaat bagi kehidupan kita. Baik simbolisasi Freud yang artikan mimpi sebagai saluran emosi yang terpendam, atau pesan-pesan spiritual yang diselipkan lewat mimpi, semua memiliki misteri dan manfaatnya. Yang harus kita lakukan adalah mulai menghargai kesehatan tidur demi kualitas hidup di saat terjaga.

Untuk sukses kita harus memiliki mimpi. Untuk bermimpi kita butuh tidur. Ya, tidurlah dengan sehat untuk tingkatkan produktivitas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Kompasiana
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.