Kompas.com - 11/04/2014, 12:39 WIB
Ilustrasi bermain ShutterstockIlustrasi bermain
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com --
Memang, menyuguhkan balita beragam tontonan bisa membuatnya anteng seharian. Tetapi, apakah benar itu yang diinginkan balita dan membuatnya bahagia?

Sebuah studi mengatakan, balita lebih bahagia tanpa televisi. Selain itu, terlalu sering menonton televisi bisa menghambat perkembangan motoriknya.

Studi yang dilakukan oleh Oxford University ini mengungkap dampak negatif televisi bagi kebahagiaan anak. Aktivitas menonton televisi dianggap kurang membuat anak berinteraksi. Sebaliknya, anak yang melakukan aktivitas aktif akan lebih meningkatkan perkembangan motorik dan kemampuan bicaranya.  

Melalui hasil analisis German Household Survey (2007) yang dilakukan pada 800 anak berusia 2-3 tahun, para ahli ekonomi juga mengungkap bahwa perkembangan luar biasa terjadi pada balita yang sering melakukan aktivitas aktif.

Aktivitas aktif seperti melukis atau melakukan kerajinan tangan diketahui dapat meningkatkan keterampilan motorik. Sementara membaca, bercerita, dan bernyanyi bisa meningkatkan kemampuan berbicara.
 
Terlebih, mereka juga akan tumbuh menjadi anak yang lebih bahagia jika melakukan semua aktivitas aktif itu bersama orangtuanya.
 
Sedangkan orangtua yang sekadar memberikan anaknya buku bergambar atau menonton televisi justru berperan dalam “meredupkan” kebahagiaan anak.
 
“Jika anak terlalu banyak menonton televisi, itu berarti ia memiliki waktu yang sedikit untuk melakukan hal aktif lain yang lebih menyenangkan dan membuatnya berkembang,” kata Dr Laurence Roope dari Health Economics Research Centre di Oxford University.

Kegiatan aktif menuntut balita belajar dan bergerak menikmati kegiatannya secara interaktif. Sedangkan menonton televisi hanya membuat mereka pasif dan merasa tidak harus “bergerak”. Hal itu juga berlaku pada buku bergambar.

“Untuk anak usia enam sampai 12 bulan, buku bergambar mungkin baik. Namun, untuk anak yang lebih tua, buku seperti itu kurang memberikan stimulasi ekstra sehingga bantuan orangtua untuk bercerita,” tambah Dr Roope.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Memang, saat ini sangat sedikit orangtua yang setiap hari bisa menemani anaknya melakukan kegiatan-kegiatan itu (jika orangtua bekerja). Tetapi, itu seharusnya menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang ingin sang balita lebih bahagia tanpa televisi. (Ester Manullang/ Tabloid Nova)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Penis Lecet
Penis Lecet
PENYAKIT
IUGR
IUGR
PENYAKIT
Coulrophobia
Coulrophobia
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4 Makanan yang Buruk untuk Kesehatan Usus

4 Makanan yang Buruk untuk Kesehatan Usus

Health
IUGR

IUGR

Penyakit
Bahaya Sosial Media untuk Anak, Orangtua Wajib Tahu

Bahaya Sosial Media untuk Anak, Orangtua Wajib Tahu

Health
Bagaimana Proses Metabolisme Alkohol di Dalam Tubuh?

Bagaimana Proses Metabolisme Alkohol di Dalam Tubuh?

Health
Mengenal Bahaya Kurang Tidur yang Tak Bisa Disepelekan

Mengenal Bahaya Kurang Tidur yang Tak Bisa Disepelekan

Health
Penis Lecet

Penis Lecet

Penyakit
Coulrophobia

Coulrophobia

Penyakit
Yang Terjadi Pada Tubuh Saat Kita Terpapar Virus Corona

Yang Terjadi Pada Tubuh Saat Kita Terpapar Virus Corona

Health
Tinnitus

Tinnitus

Penyakit
Rabun

Rabun

Penyakit
Gastroschisis

Gastroschisis

Penyakit
5 Cara Menurunkan Risiko Kanker Paru-paru

5 Cara Menurunkan Risiko Kanker Paru-paru

Health
Lemah Jantung

Lemah Jantung

Penyakit
Mengenal Gejala Kanker Paru-paru Stadium 2

Mengenal Gejala Kanker Paru-paru Stadium 2

Health
Agranulositosis

Agranulositosis

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.