Kompas.com - 17/04/2014, 10:13 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Alergi ditemukan paling banyak pada anak usia di bawah dua tahun, terutama alergi susu sapi. Pada anak yang lebih besar, mereka rentan mengalami rinitis alergi, asma, dan alergi makanan. Seringkali orangtua tidak menyadari anaknya menderita alergi karena gejalanya tidak selalu terlihat.

Menurut penjelasan dr.Zakiudin Munasir, Sp.A(K), alergi bisa menyebabkan reaksi pada saluran pernapasan, pencernaan, hingga kulit. "Kalau yang kena saluran napas anak akan mudah bersin, hidung gatal, hidung tersumbat, serta batuk pilek berulang," katanya dalam acara Nutritalk mengenai alergi susu sapi yang diadakan oleh Sari Husada di Jakarta (16/4/14).

Sementara itu alergi yang mengenai saluran cerna bisa membuat seseorang mengalami mual, muntah, diare, atau darah pada feses. Gejala klinis alergi pada kulit lebih mudah dikenali karena reaksinya langsung muncul setelah anak mengonsumsi makanan tertentu. Reaksinya berupa ruam merah pada kulit, gatal, atau keropeng.

Meski demikian, menurut Zakiudin, ada beberapa tanda fisik pada anak yang menunjukkan seorang anak menderita alergi yang sudah berkepanjangan.

"Secara fisik bisa dilihat ada kerutan atau lipatan halus pada mata anak. Garis halus itu disebut juga dengan Dennies Line. Selain itu mata juga terlihat sembab seperti memakai celak," kata dokter yang menjadi Ketua Divisi Alergi Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM ini.

Tanda-tanda lain anak menderita alergi antara lain anak sering mengusapkan tangan ke hidung karena hidungnya sering mampet, lidah peta atau warna putih-putih pada lidah anak yang sering dikira sariawan, serta anak sering bernapas lewat mulut.

Alergi yang tidak terkendali bisa mengganggu tumbuh kembang anak. "Jika terlambat didiagnosis bisa mengganggu pertumbuhan anak. Misalnya anak alergi pada beberapa jenis makanan sehingga harus pantang. Kalau orangtuanya malas mencari pengganti makanan lain, anak tentu bisa kurang gizi," kata dr.Bernie Endryani Medise, Sp.A (K), dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, pilihan makanan yang sedikit juga membuat anak kekurangan kalori. "Lama kelamaan berat badan anak tidak bertambah, dalam jangka panjang tinggi badannya menjadi terhambat," kata Bernie.

Dengan intervensi dan penanganan yang tepat, anak yang menderita alergi tetap bisa tumbuh dengan sehat. "Cara paling efektif adalah menghindari hal-hal yang memicu alergi anak. Entah itu debu atau makanan. Kalau pemicunya makanan, maka orangtua perlu mencari makanan pengganti yang nilai gizinya sama," kata Zakiudin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.