Kompas.com - 24/04/2014, 10:30 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

WASHINGTON, KOMPAS.com - Riset yang dirilis pada Rabu (23/4/2014), menyatakan aspirin dapat menekan risiko kanker kolon hingga separo tetapi hanya bagi orang yang memiliki jenis gen tertentu. Pasien tanpa gen penghasil enzim khusus ini, nyaris tak dapat manfaat apa pun dari konsumsi aspirin.

Para peneliti sebelumnya sudah mendapati bahwa non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAIDs) seperti aspirin memang dapat mengurangi risiko kanker usus besar. Namun, mereka saat itu belum dapat memahami alasan obat tersebut hanya memberi manfaat bagi sebagian pasien.

Dalam laporan penelitian yang dimuat di Science Translational Medicine, para peneliti menyatakan mereka meneliti jaringan dari orang-orang yang mulai mengidap kanker usus besar untuk mencari jawaban. Penelitian melibatkan 270 jaringan kanker usus besar dari 127.865 relawan dari penelitian selama tiga dekade ini.

Penelitian mendapatkan bahwa pasien dengan profil genetik yang tak bisa menghasilakan kadar tinggi enzim 15-PGDH hampir tak mendapatkan manfaat apa pun dari aspirin untuk kanker usus besarnya.

"(Namun) orang-orang dalam penelitian ini yang memiliki tingkat enzim 15-PGDH tinggi dan meminum aspirin, mereka memangkas risiko kanker usus besar hingga setengahnya," ujar peneliti senior Sanford Markowitz dari Case Western Reserve School of Medicine.

"Temuan ini menghasilkan data bersih ya atau tidak, tentang siapa yang akan mendapat manfaat aspirin (dalam kasus kanker kolon ini)," imbuh Markowitz. Hasil penelitian ini penting, kata para peneliti, karena konsumsi aspirin bagi beberapa pasien juga meningkatkan risiko sakit maag dan memicu pendarahan gastrointestinal.

Para peneliti ini masih berharap dapat melanjutkan penelitian untuk mempermudah identifikasi bagi pasien yang bisa dan tidak mungkin mendapatkan efek positif dari aspirin untuk kasus kanker. American Cancer Society menyebutkan kanker usus besar dialami oleh 137.000 orang Amerika berdasarkan data terakhir pada 2013 dan 50.000 di antaranya meninggal.

Kanker usus besar merupakan kanker paling mematikan nomor dua setelah kanker paru-paru. Namun, angka kematian akibat kanker usus besar terus menurun dalam dua dekade terakhir dengan meningkatnya kesadaran orang-orang rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama kolonoskopi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.