Anak Bisa Jadi Pelaku Kekerasan Seksual

Kompas.com - 14/05/2014, 16:16 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Pelaku kekerasan seksual terhadap anak bukan hanya orang dewasa. Besarnya kemampuan anak meniru apa pun yang dilihat dan dialami bisa mendorong anak melakukan kekerasan seksual terhadap temannya. Keluarga menjadi benteng utama untuk melindungi anak agar tidak menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual.

Faktor eksternal menjadi pemicu terbesar anak melakukan kekerasan seksual itu. ”Bukan akibat kerusakan pada otak anak,” kata psikolog klinis anak di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta, Annelia Sari Sani, Selasa (13/5).

Faktor eksternal itu biasanya berupa pengalaman kekerasan seksual masa lalu yang dialami anak, baik yang dilakukan orang dewasa atau temannya maupun paparan pornografi dan pornoaksi dari lingkungan sekitar.

Menurut catatan Kompas, sejak awal April, berbagai kasus kekerasan seksual terungkap di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari kawasan perkotaan hingga pedesaan. Lokasi terjadinya kekerasan seksual beragam, mulai dari sekolah, rumah, tempat bermain, hingga lingkungan sekitar.

Pelakunya pun tidak hanya orang dewasa yang memiliki minat seksual terhadap anak atau paedofilia, tetapi juga anak yang lebih besar dibandingkan korban. Pekan lalu, anak berumur 9 tahun di Cirebon melakukan kekerasan seksual terhadap sejumlah anak berumur 5-6 tahun.

Kepala Bagian Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta Dinastuti menegaskan, kekerasan seksual yang dilakukan anak terhadap anak lain tidak termasuk kasus paedofilia, tetapi pelecehan seksual. Perilaku anak meniru apa pun yang dialami atau dilihatnya bisa membuat anak melakukan pelecehan seksual. ”Anak bisa saja melakukan (pelecehan seksual) tanpa paham efeknya,” kata dia.

Annelia menambahkan, kemampuan kognitif anak biasanya berkembang lebih lambat daripada kemampuan seksualnya. Usia amat dini membuat mereka belum paham seksualitas, termasuk norma dan batasannya.

Ketika menjadi korban, anak umumnya tidak paham apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka. Mereka hanya merasa direndahkan dan dihina. Saat menjadi pelaku kekerasan, anak juga merasa tidak bersalah karena mereka juga pernah diperlakukan sama oleh orang lain.

Keterbatasan memahami apa yang dialami atau dilihat itu membuat anak sulit menceritakan pengalaman seksual yang dialaminya kepada orangtua. Terlebih lagi jika hubungan orangtua dan anak tidak hangat sehingga membuat anak takut dimarahi.
Pornografi dan pornoaksi

Masyarakat yang semakin permisif terhadap persoalan seksualitas membuat pornografi dan pornoaksi begitu mudah dijumpai anak-anak. Adegan seksual itu ada dalam tayangan televisi, film, internet, video game, keping cakram, hingga aktivitas seksual orangtua yang dilihat anak.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X