Kompas.com - 14/06/2014, 17:15 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Begitu sesuatu yang manis menyentuh lidah, indera pengecap akan mengirimkan pesan pada otak: sangat lezat. Hal ini akan merangsang otak memproduksi hormon dopamin yang membuat kita merasa nyaman dan senang.

Kemudian setelah ditelan gula akan masuk ke dalam pencernaan dan dilarutkan dengan cairan pencernaan lalu dikirim ke usus kecil. Enzim lalu mulai memecah gula itu menjadi dua jenis molekul, yakni glukosa dan fruktosa.

Kebanyakan gula tambahan berasal dari tebu atau bit, keduanya mengandung glukosa dan fruktosa hampir seimbang. Sementara itu, gula tambahan yang berasal dari sirup jagung memiliki lebih banyak fruktosa yang diproses dibanding glukosa. Mengasup gula ini lebih sering akan berpengaruh buruk pada tubuh, terutama jika selama ini Anda memiliki gaya hidup kurang bergerak.

Beginilah reaksi tubuh pada dua jenis molekul gula:

Glukosa
- Setelah ditelan, glukosa masuk ke dalam dinding usus kecil, merangsang pankreas untuk mengeluarkan insulin, hormon yang akan mengubah gula menjadi energi.

- Kebanyakan makanan dan minuman mengandung terlalu banyak glukosa yang akan membanjiri tubuh, sehingga kita menjadi ingin makan lebih banyak lagi. Otak akan melawannya dengan melepaskan serotonin, hormon yang juga mengatur tidur. Akibatnya adalah terjadi penurunan atau peningkatan drastis pada kadar gula darah.

- Insulin juga akan menghambat produksi leptin, si hormon lapar yang akan memberi tanda pada otak bahwa kita sudah kenyang. Makin tinggi kadar insulin, makin laparlah kita (meski sudah makan banyak). Dalam kondisi ini otak akan memerintahkan tubuh untuk mulai menyimpan glukosa sebagai lemak perut.

- Kadar insulin yang tinggi juga berdampak pada otak, hal ini diduga juga memicu penyakit Alzheimer. Selain itu, otak akan mengurangi produksi dopamin, sehingga kita merasa seperti "ngidam" dan ingin makan terus.

- Pankreas akan memompa lebih banyak insulin sehingga sel-sel tubuh menjadi resisten. Seluruh glukosa akhirnya tak bisa masuk dalam sel tubuh dan beredar pada peredaran darah. Kadar gula darah pun selalu tinggi dan lama kelamaan akan terjadi prediabetes, atau jika tidak disadari langsung menjadi diabetes.

Fruktosa
- Molekul ini juga akan masuk dalam dinding usus kecil lewat peredaran darah, yang akan mengirim fruktosa langsung ke liver.

- Liver akan bekerja untuk memetabolisme fruktosa menjadi sesuatu yang bisa dipakai tubuh. Tetapi organ ini gampang lelah, terutama jika kita sering mengasup makanan bergula. Seringkali, kelebihan fruktosa akan memicu perlemakan hati.

- Kebanyakan fruktosa juga akan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dan meningkatkan produksi trigliserida, jenis lemak yang bisa pindah dari liver ke pembuluh darah. Risiko penyakit jantung dan stroke pun meningkat.

- Liver akan mengirimkan sinyal darurat dan meminta insulin tambahan. Padahal, pankreas saat ini sudah bekerja keras dan ini menyebabkan terjadinya peradangan. Kita pun lebih beresiko menderita diabetes.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X