Kompas.com - 19/12/2014, 16:51 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Diabetes merupakan penyakit kronis yang pengobatannya dilakukan seumur hidup. Penderita diabetes umumnya harus rutin mengonsumsi obat atau suntik insulin agar gula darahnya tetap stabil. Namun, banyak diabetesi yang tak mau suntik insulin karena takut.

Dokter spesialis penyakit dalam Dante S Herbuwono mengatakan, banyak isu negatif yang membuat diabetesi takut untuk suntik insulin. Akibatnya, komplikasi penyakit lebih mudah muncul. "Insulin tidak menakutkan. Suntik insulin enggak ada rasanya. Sama sekali enggak sakit, gampang," ujar Dante dalam diskusi di Jakarta, Jumat (19/12/2914).

Dante menjelaskan, hambatan dalam pemberian insulin di antaranya kekhawatiran pasien terhadap efek samping insulin seperti hipoglikemia dan penambahan berat badan. Beredar pula isu bahwa insulin membuat seseorang ketergantungan pada obat, menyebabkan kebutaan, dan mengganggu fungsi ginjal. Hal itu pun ditepis oleh Dante.

Hal senada dikatakan Kepala Divisi Endokrinologi Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)- RSCM, Em Yunir. Menurut Yunir, suntik insulin justru dapat memperlambat kematian seseorang karena diabetes.

"Kalau enggak pakai insulin gulanya bisa lebih tinggi. Mungkin kecepatan terjadinya komplikasi jadi lebih awal munculnya. Jadi, insulin memperlampat kematian. Umur harapan hidup lebih panjang," terang Yunir.

Saat ini pun telah banyak berkembang alat suntik insulin. Ada insulin pump yang dapat ditempel ke badan. Insulin pump dapat mengatur banyaknya insulin yang disuntikan ke tubuh secara manual maupun otomatis.

Dante mengatakan, saat ini bahkan insulin pump dikembangkan untuk terhubung ke aplikasi di handphone dalam mengatur banyaknya insulin. Adapun, suntik insulin yang banyak dipakai saat ini adalah suntikan yang berbentuk seperti pena.

Dante mengatakan, masalah diabetes ini, mulai dari inovasi pengobatan, termasuk pemberian insulin akan dibahas lebih lanjut dalam Jakarta Diabetes Meeting (JDM) 2014 yang diselenggarakan pada 20-21 Desember 2014 di Hotel Shangri La, Jakarta.

JDM ke 23 ini akan diikuti sekitar 1000 dokter di seluruh Indonesia, baik dokter umum, spesialis, konsultan endokrin, edukator diabetes, hingga pemerhati diabetes.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.