Kompas.com - 01/04/2015, 13:15 WIB
Petugas melakukan pengasapan pencegahan penyakit demam berdarah dengue atau DBD di Radio Dalam, Jakarta Selatan. Kompas.com/Kristianto PurnomoPetugas melakukan pengasapan pencegahan penyakit demam berdarah dengue atau DBD di Radio Dalam, Jakarta Selatan.
EditorLusia Kus Anna

Nila Kirana

Hampir setiap tahun media massa tak pernah absen memberitakan demam berdarah dengue yang berjangkit di seantero pelosok negeri ini secara bergantian. Banyak yang selamat dari endemi penyakit itu, tak sedikit pula jiwa yang melayang karena itu. Namun, kenyataan tersebut tak sepenuhnya menggugah publik untuk mengantisipasi DBD.

Hal itu tersimpul dari hasil jajak pendapat Kompas beberapa waktu lalu. Pendapat mayoritas publik yang "mengamini" bahwa DBD masih mengancam kesehatan masyarakat ternyata tak senantiasa paralel dengan perilaku pencegahan.

Di antara publik tersebut, tetap saja ada yang tidak melakukan apa-apa alias diam saja menghadapi ancaman penyakit tersebut. Kepedulian untuk bersama-sama mencegah terjadi wabah DBD di lingkungan tempat tinggal pun belum sepenuhnya terwujud.

Fakta bahwa masih ada publik yang sama sekali tidak melakukan upaya pencegahan sarang nyamuk terungkap dalam hasil jajak pendapat ini. Jika dirata-rata, 1 di antara 20 responden mengabaikan upaya menguras, menutup, dan mengubur (3M), seperti gencar disosialisasikan dan disarankan sejumlah pihak selama ini untuk mencegah DBD. Padahal, peluang sekecil apa pun tetap bisa memicu berkembang biaknya jentik nyamuk Aedes aegepty penyebab DBD.

Minimal ada tiga hal yang dicanangkan dalam pemberantasan sarang nyamuk DBD. Pertama adalah kegiatan menguras atau membersihkan air di bak atau vas bunga. Kedua, menutup wadah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk. Ketiga, mengubur atau memusnahkan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi.

Kesadaran meningkat

Walaupun ada bagian publik yang belum sadar tentang pentingnya melakukan upaya pencegahan, sebagian lainnya sangat menyadari arti pentingnya pencegahan.

Selain kegiatan 3M, sebagian publik sadar untuk menghilangkan kebiasaan menggantung pakaian di dinding kamar. Sebagian lagi yang selalu rutin membersihkan wadah penampung air di mesin dispenser. Talang air dan saluran air pun tak luput dari perhatian sekitar 15 persen responden.

Upaya ini sangat positif karena pada musim pancaroba, hujan kerap kali meninggalkan genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk DBD.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X