Kompas.com - 08/05/2015, 19:00 WIB
Ilustrasi shutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Tim dokter dari Australia berhasil menggunakan sel sperma yang diambil dari pria yang sudah 2 hari meninggal dunia. Ini adalah kasus pertama di dunia yang sukses menciptakan "bayi sehat dan bahagia".

Dokter yang terlibat dalam prosedur tersebut mengatakan, keberhasilan ini bisa menginspirasi dokter lain yang sebelumnya mengira hal tersebut tak akan berhasil.

Sebelumnya, rekor penggunaan sperma yang diambil dari pria yang telah meninggal dan berhasil menghasilkan bayi sehat adalah 30 jam atau 18 jam lebih sedikit dari kasus di Australia ini.

Pakar bayi tabung Steve Robson dari fakultas kedokteran Australian National University mengatakan, ini adalah kasus paling luar biasa yang pernah ditanganinya.

"Sungguh luar biasa bisa terlibat untuk membantu wanita yang memiliki cinta sangat besar dan juga keberanian. Sebagai tim dokter kami terkesan dengan besarnya cinta yang wanita ini miliki dan semangat luar biasa dalam menghadapi rintangan," kata Robson.

Wanita yang namanya dirahasiakan tersebut berjuang melawan Mahkamah Agung Adelaide setelah suaminya meninggal mendadak akibat kecelakaan motor. Dibutuhkan waktu dua hari untuk mendapat persetujuan pengadilan dan prosedur pengambilan sperma dilakukan di Canberra karena di Adelaide hal itu dianggap ilegal.

Canberra adalah satu-satunya tempat di Australia yang mengijinkan pengambilan sperma dari mayat tanpa adanya perjanjian tertulis. Di Australia Selatan, sperma dari mayat bisa dipakai jika diambil menjelang kematian.

Namun dalam kasus tersebut, wanita ini bisa membuktikan pada pengadilan bahwa ia dan suaminya memang sedang merencanakan kehamilan.

Menurut Robson, pengambilan sel sperma dari pria yang sudah meninggal dikhawatirkan bisa menyebabkan kerusakan DNA. Tapi dalam kasus ini hal tersebut tidak terjadi. Bahkan, wanita tersebut langsung hamil dalam percobaan pertama dan kini bayinya sudah berusia setahun dan dalam kondisi sehat.

Kelompok konservatif menilai tindakan tersebut tidak etis. "Secara sengaja melakukan pembuahan tanpa adanya ayah adalah tindakan untuk memenuhi keinginan orang dewasa, bukannya kepentingan terbaik anak," kata Ros Philips dari Family Voice Australia.

Namun Kelton Tremellen, pakar kesuburan dan ginekologi, berkilah jika ibu dan anaknya bahagia, dan sang anak sehat, maka opini tersebut tidak relevan.

"Apakah anak itu secara mental mengalami kekerasan itu adalah poin yang terbuka karena usia anak masih sangat kecil. Tapi, cukup sulit menyimpulkan bahwa kondisi anak akan lebih buruk jika ia dilahirkan dari pada tidak," katanya.

Mengingat si anak tersebut sangat "berharga dan dicintai", tim dokter yang terlibat dalam kasus ini berjanji akan membuat laporan secara berkala mengenai kondisi anak. Laporan tersebut diharapkan bisa memberikan detil dan harapan bagi wanita yang mengalami trauma akibat kehilangan pasangan tercintanya.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X