Kompas.com - 07/08/2015, 14:10 WIB
Ilustrasi. ShutterstockIlustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

 


JAKARTA, KOMPAS.com
– Hepatitis C merupakan penyakit yang bisa menular kepada siapa saja. Deteksi dini virus hepatitis C amat penting sebelum terjadi kerusakan hati. Sayangnya, tak banyak masyarakat yang peduli dan tak mau memeriksakan diri.

Salah satu deteksi dini sebenarnya bisa diperoleh setelah melakukan donor darah. Palang Merah Indonesia (PMI) selama ini selalu melakukan skrining sampel darah dari pendonor sebelum diberikan kepada orang yang membutuhkan transfusi darah. Dari proses uji skrining tersebut, PMI bisa menyaring sampel darah yang initial reaktif hepatitis C.

“Semua darah donor diskrining. Kita menggunakan reagen paling sensitif. Setelah kemungkinan initial reaktif, kita akan panggil pendonor, bener enggak dia sakit. Kita panggil kemdudina dirujuk ke Puskesmas,” terang  Kepala Unit Transfusi Darah Pusat Palang Merah Indonesia (UTDP PMI) dokter Ria Syafitri di Jakarta, Rabu (5/8/2015).

Ria menegaskan, PMI tidak dalam kapasitas mendiagnosis seseorang apakah positif virus hepatitis C atau tidak. Setelah memanggil pendonor yang darahnya kemungkinan terdapat virus, pendonor dirujuk ke puskesmas untuk melakukan tes lebih lanjut.

Ria mengatakan, hasil initial reaktif belum tentu pendonor positif hepatitis C. Sebab, skrining menggunakan reagen paling sensitif, agar darah yang akan diberikan benar-benar bersih.

“Jadi semua virus-virus kita tangkep, kalau ada virus yang mirip-mirip tetap kita ambil untuk keamanan darah yang akan diberikan,” jelas Ria.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan hasil rekapitulasi laporan uji saring darah UTD PMI di seluruh wilayah Indonesia, hasil skrining hepatitis C mencapai 0,37 persen. Sayangnya, banyak pendonor yang terdeteksi tidak mau atau tidak peduli dengan hasil uji skrining darah mereka. Ria mengungkapkan, hanya sekitar 15-30 persen donor yang tersaring hepatitis C bersedia datang untuk konsultasi.

Menurut Ria, ada yang beranggapan bahwa jika mendonorkan darah maka sekaligus akan membuang darah kotor, kemudian digantikan dengan yang bersih. “Ini persepsi yang salah,” kata Ria.

Kendala lainnya, ada pendonor yang ternyata tidak mengisi data di formulir sebelum mendonor, seperti nomor telepon dan alamat atau tidak mengisinya dengan data yang sesuai. Hal ini menyulitkan PMI untuk memanggil pendonor dan merujuk mereka ke puskesmas.

Padahal, jika terdeteksi sejak dini, hepatitis C bisa diobati sehingga tak lagi menularkan kepada orang lain. Sering kali pasien tidak peduli karena adanya virus hepatitis C dalam tubuh biasanya tidak bergejala. Padahal, secara perlahan, virus ini bisa merusak hati. 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X