Kompas.com - 06/09/2015, 18:55 WIB
Ilustrasi. ShutterstockIlustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika anak didiagnosis kanker, siapa yang paling merasa terpukul? Tentunya orangtua. Selama masih bisa berlari-lari, masih berenergi, anak kecil tak menyadari jika dirinya sakit. "Jadi yang diterapi enggak cuma yang sakit, tapi juga anggota keluarga yang tidak sakit," ujar Psikolog Tika Bisono di Jakarta, Kamis (3/9/2015).

Setelah kesedihan menghampiri, stres, baik yang dialami ayah maupun ibu, akan muncul banyak masalah dalam keluarga. Selama menjadi pendamping psikologis pasien dan keluarga kanker, Tika mendapati banyak kasus yang terjadi di keluarga.

Tika menuturkan, orangtua sering kali fokus perhatiannya mendadak hanya kepada anak yang sakit. Sang adik atau kakak yang tidak sakit akhirnya cemburu, karena merasa tidak diperhatikan, terutama oleh sang ibu. Mereka kemudian bertengkar untuk berebut perhatian. "Si sakit dianggap hambatan untuk mendapat perhatian orang tuanya. Empati seperti itu harus dibangun di rumah, di keluarga," jelas Tika.

Wanita juga tak boleh melupakan perannya sebagai seorang ibu bagi semua anaknya, juga sebagai seorang istri, ketika anak terkena kanker. Tika mengungkapkan, masalah psikologis juga kerap terjadi pada sang ayah. Kebanyakan ayah sulit berdamai dengan situasi anaknya. Apalagi, jika anak yang terkena kanker adalah laki-laki. "Ayah merasa bersalah. Saat dia kecewa, perilakunya bisa malah terbalik. Jadi menghindar dan ada yang sampai meninggalkan anaknya," ungkap Tika.

Ketika mendengar kata kanker, kebanyakan orang akan berpikir tentang kematian. Beranggapan jika sudah terkena kanker pasti meninggal dunia. Padahal, kematian ditentukan oleh Tuhan. "Ikhtiar enggak boleh ada putusnya. Jatuh bisa, namanya juga manusia," imbuh Tika.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Apa Saja Penyebab Penyakit Ginjal?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Health
Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Health
10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

Health
Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Health
Sindrom Steven-Johnson

Sindrom Steven-Johnson

Penyakit
Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Health
Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Health
Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Health
Apa Penyebab Kulit Kering?

Apa Penyebab Kulit Kering?

Health
4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

Health
8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

Health
Sindrom Asperger

Sindrom Asperger

Penyakit
Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.