Sudah Terkena Kabut Asap, Jangan Diperburuk dengan Merokok

Kompas.com - 26/10/2015, 13:00 WIB
Para pebalap menembus pekatnya kabut asap dalam etape ketiga Tour de Singkarak dari Desa Adat Sijunjung menuju Sport Centre Koto Baru, Sumatera Barat, Senin (5/10/2015). Pada etape ini, para pebalap mengayuh sepeda sejauh 184,5 kilometer. KOMPAS / A HANDOKOPara pebalap menembus pekatnya kabut asap dalam etape ketiga Tour de Singkarak dari Desa Adat Sijunjung menuju Sport Centre Koto Baru, Sumatera Barat, Senin (5/10/2015). Pada etape ini, para pebalap mengayuh sepeda sejauh 184,5 kilometer.
|
EditorLusia Kus Anna
JAKARTA, KOMPAS.com - Kabut asap akibat pembakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan menyebabkan ratusan ribu warga terserang penyakit terkait sistem pernapasan, seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan penumonia.

Kondisi penyakit ini tak hanya makin memburuk jika terus terpapar kabut asap, melainkan juga jika terpapar asap rokok.

Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Agus Dwi Susanto menjelaskan, kabut asap dan asap rokok mengandung zat berbahaya bagi sistem pernapasan. "Asap rokok mengandung tiga bahan utama berbahaya," kata Agus saat dihubungi Kompas.com, Minggu (25/10/2015).

Bahan berbahaya tersebut, yaitu nikotin, tar yang mengandung 6000 bahan kimia berbahaya dan 40 di antaranya bersifat karsinogen, dan gas karbon monoksida.

Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) ini pun mengimbau korban kabut asap untuk berhenti merokok.

"Apabila sudah terkena penyakit sebagai dampak asap kebakaran hutan, stop atau hentikan kebiasaan yang memperburuk penyakit seperti berhenti merokok," kata Agus.

Untuk mencegah risiko penyakit akibat kabut asap, PDPI juga mengimbau warga tidak menambah polusi di dalam rumah, seperti merokok, menyalakan lilin, hingga perapian. Aktivitas itu bisa meningkatkan tingkat polusi udara di dalam ruangan.

Risiko penyakit juga bisa dicegah dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti cuci tangan pakai sabun, terutama setelah menggunakan fasilitas umum, dan makanan yang bergizi.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Khususnya pada anak-anak untuk tidak bermain di luar rumah. Apalagi jika indeks standar pencemaran udara (ISPU) sudah mencapai angka 200-300. Jika terpaksa harus ke luar rumah, gunakan masker.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X