Kompas.com - 24/03/2016, 10:09 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kekambuhan pada pasien epilepsi bisa diatasi dengan konsumsi obat-obatan. Obat yang diberikan berbeda-beda tergantung jenis epilepsi dan kecocokan dengan pasien. Cocok atau tidaknya obat dengan pasien bisa dilihat dari kekambuhan atau bangkitan yang muncul.

"Orang dengan epilepsi (ODE) prinsipnya minum obat teratur. Kalau sudah tidak ada bangkitan epilepsi dengan minum obat itu, berarti cocok. Nah, kalau cocok minum obat A, ya minum obat A terus," ujar dokter spesialis saraf Irawaty di Jakarta, Rabu (23/3/2016).

Jika sudah cocok dengan satu jenis obat, akan sulit bagi ODE untuk berpindah ke obat lain. Masalah pun muncul jika obat yang selama ini dikonsumsi tiba-tiba menjadi langka dari peredaran.

Ira mengungkapkan, dalam dua tahun terakhir ini sempat dilaporkan beberapa obat epilepsi yang tidak tersedia. Obat tersebut antara lain, obat generik jenis carbamazepine dan fenobarbital.

Harga obat juga cukup murah, yaitu kurang dari Rp 100 hingga Rp 500 per tablet. Dalam sebulan, pemakaian obat hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 10.000. Obat tersebut selama ini bisa didapatkan gratis karena ditanggung BPJS Kesehatan.

Kesulitan mendapat obat tersebut, membuat pasien membeli obat yang lebih mahal. Masalahnya, obat itu pun belum tentu cocok dengan pasien. Akibatnya, sejumlah pasien putus minum obat dan terjadi status epileptikus atau munculnya kekambuhan terus menerus dan kondisinya menjadi lebih parah.

"Bila bangkitan terjadi terus menerus, ini yang bisa mengancam nyawa. Dia akan kejang berat, hingga hilang kesadaran. Ada empat sampai lima kasus seperti ini di RSCM. Mereka sempat harus masuk ICU," ungkap Ira.

Ira yang juga Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia ini, mengaku sempat menyampaikan kepada Kementerian Kesehatan mengenai kelangkaan jenis obat tersebut. Belum diketahui pasti mengapa kelangkaan obat terjadi.

Akan tetapi, Ira mengatakan, laporan kelangkaan obat generik untuk ODE sudah berkurang belakangan ini. Yang jelas, jika stok obat tersebut kosong, pemerintah justru merugi karena biaya yang dikeluarkan menjadi lebih banyak.

"Misalnya, biasanya minum obat Rp 10.000 sebulan. Tapi, karena keputus obat jadi jutaan habis biayanya," kata Ira.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.