Kompas.com - 28/05/2016, 12:15 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengaku prihatin dengan banyaknya perokok di usia anak atau remaja. Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2014 menunjukkan, prevalensi perokok anak usia 13-15 tahun di Indonesia mencapai 20,3 persen.

"Lebih menyedihkan, kecenderungan merokok terjadi di generasi muda yang makin meningkat, anak-anak mulai merokok pada usia belia. Saya kalau lihat di car free day, anak-anak jalan pagi lalu duduk-duduk di pinggir jalan sambil merokok. Sangat prihatin melihatnya," kata Nila dalam acara peluncuran iklan layanan masyarakat di Jakarta, Jumat (27/5/2016).

Dari mana anak-anak mendapatkan rokok tersebut? Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, setiap orang dilarang menjual produk tembakau kepada anak di bawah usia 18 tahun.

Setiap orang juga dilarang menyuruh anak di bawah usia 18 tahun untuk menjual, membeli, atau mengonsumsi produk tembakau. Sayangnya, regulasi yang ada itu tidak berjalan optimal di masyarakat. Contohya, seorang ayah yang merokok kerap menyuruh anaknya membelikan rokok.

Nila mengungkapkan, 57,3 persen anak-anak pun terpapar asap rokok di dalam rumah sendiri dan 60,1 persen terpapar di tempat umum. Sebanyak tiga dari lima pelajar (58,2 persen) yang merokok mengaku membeli rokok di toko dan warung. Mereka pun umumnya tidak pernah ditolak oleh penjual saat membeli rokok.

Mereka yang sudah merokok sejak anak-anak berisiko terkena penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, dan kanker pada usia produktif. Menurut penelitian, penebalan dinding pembuluh darah bisa terjadi sejak usia 15 tahun jika sering merokok maupun terpapar asap rokok.

Nila mengatakan, untuk melindungi anak-anak dari bahaya rokok perlu kerja sama semua pihak, termasuk orangtua. Tak hanya Kementerian Kesehatan, pengendalian tembakau seharusnya juga dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.