Kompas.com - 10/06/2016, 10:00 WIB
Ketiga tersangka pembunuhan terhadap EF (19) saat dibawa oleh aparat kepolisian di Mapolda Metro Jaya, Selasa (17/5/2016). Adapun ketiga tersangka tersebut diketahui berinisial RAR (24), RAL (16) dan IH (24). Akhdi martin pratamaKetiga tersangka pembunuhan terhadap EF (19) saat dibawa oleh aparat kepolisian di Mapolda Metro Jaya, Selasa (17/5/2016). Adapun ketiga tersangka tersebut diketahui berinisial RAR (24), RAL (16) dan IH (24).
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana penerapan hukuman tambahan kebiri kimiawi untuk pelaku kejahatan seksual pada anak terus menuai pro-kontra. Dokter spesialis andrologi Wimpie Pangkahila menjelaskan, kebiri kimiawi yang dimaksud adalah dengan memberikan obat antitestoteron atau antiandrogen.

Pemberian obat antitestoteron memang akan membuat gairah seksual laki-laki menurun. "Testosteron adalah hormon dalam tubuh kita yang antara lain berfungsi pada sekualitas. Pada pria hormon ini bisa membangkitkan libido. Jadi kalau hormonnya dikurangi, maka gairah seks akan berkurang," terang Wimpie dalam jumpa pers di kantor Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jakarta, Kamis (9/6/2016).

Namun, pemberian obat antitestoteron itu menimbulkan efek samping yang menurunkan kesehatan tubuh. Efek sampingnya antara lain, osteoporosis, anemia, kekuatan otot menurun dan lemak meningkat, serta penurunan fungsi kognitif.

Penumpukan lemak di tubuh pada akhirnya bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Wimpie mengungkapkan, kebiri kimiawi juga dapat membuat pria mengalami infertilitas atau ketidaksuburan.

"Dalam penelitian, pria yang diberikan obat antiandrogen banyak yang mengalami kemandulan. Dalam waktu 4 bulan tidak punya sel spermatozoa," ujar Wimpie.

Namun, jika kembali diberi suntik hormon testoteron, efek samping tadi kembali normal. Efek suntik obat antiteatoteron pun hanya bersifat sementara. Jika pemberiannya dihentikan, gairah seksual bisa kembali muncul.

"Lalu pertanyaan saya berapa lama hukuman ini akan diberikan, berapa tahun?" kata Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali ini.

Menurut Wimpie, lebih baik hukuman kurungan penjara diperberat. Hukuman kebiri untuk pelaku kejahatan seksual dinilai belum terbukti dapat menimbulkan efek jera.

Ikatan Dokter Indonesia pun menyatakan menolak untuk menjadi eksekutor hukuman kebiri karena dianggap melanggar aumpah dokter kode etik kedokteran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.