Kompas.com - 03/01/2017, 13:00 WIB
EditorLusia Kus Anna

Tahun baru telah tiba. Apa resolusi Anda tahun ini? Menurunkan berat badan, berhenti merokok, rajin berolahraga, membatasi penggunaan kartu kredit atau menekan nafsu belanja? Namun, apakah resolusi yang sama pernah Anda buat menjelang pergantian tahun baru sebelumnya?

Studi John Norcross dan rekan yang dipublikasikan di Journal of Clinical Psychology, 2002, menyebut 50 persen penduduk membuat resolusi atau tekad untuk melakukan sejumlah hal tiap tahun baru tiba. Namun, kurang dari 10 persennya dari mereka mampu menjalankannya hingga beberapa bulan.

Psikolog Universitas Carleton, Kanada, Timothy Pychyl, yang dikutip di psychologytoday.com, 30 Desember 2014, mengatakan, resolusi sebagai bentuk budaya penangguhan demi menemukan kembali diri kita. Ini upaya memotivasi kembali diri agar bisa memperbaiki perilaku.

Namun, mempertahankan resolusi itu bukan perkara mudah. Sebagian besar orang justru terjebak menjadikan resolusi itu sebagai ritual belaka. Ahli perilaku kecanduan dari Universitas Nottingham Trent, Inggris, Mark Griffiths, menambahkan, banyak orang gagal mewujudkan resolusinya karena target yang mereka tetapkan terlalu besar dan tak realistis.

"Mereka adalah korban sindrom harapan palsu (false hope syndrome)," katanya, seperti dikutip theconversation.com, 1 Januari 2016. Sindrom itu ditandai harapan tak wajar atau tak realistis dan tidak sejajar dengan pandangan diri atas perubahan perilaku yang diniatkan.

Perubahan perilaku

Agar perubahan perilaku yang diniatkan terwujud, James Prochaska dan Carlo DiClemente menyebut seseorang harus melalui tiga tahapan, yakni pra-perenungan, perenungan, dan persiapan. Setelah tiga tahap itu dilalui, tahap berikut berupa tindakan dan menjaga tindakan bisa dijalankan.

Christine Carter, staf senior Greater Good Science Center, Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, mengatakan, di tahap pra-perenungan itu muncul niat berubah. Namun, dari hati terdalam, Anda belum ingin berubah atau tak ingin berubah.

Anda pun kerap menyangkal atau merasionalkan perilaku atau kondisi diri. Resolusi pada tahap ini kerap dibuat pada kondisi terpaksa, terutama karena tekanan lingkungan, seperti saran dokter, keluarga, pasangan atau teman.

Nyatanya, mayoritas orang yang membuat resolusi terjebak di tahap ini. Mereka tak tahu cara berubah atau kehilangan semangat akibat kegagalan resolusi tahun sebelumnya. "Jika Anda ada di tahap ini, Anda harus siap gagal lagi," ujarnya.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.