Kompas.com - 20/06/2020, 10:00 WIB
Ilustrasi sakit perut. ShutterstockIlustrasi sakit perut.

KOMPAS.com - Banyak orang tidak bisa mengonsumsi susu atau produk susu karena mengalami intoleransi laktosa.

Laktosa adalah jenis gula yang ditemukan secara alami dalam susu sebagian besar mamalia.

Mereka yang mengalami itoleransi laktosa biasanya mengalami gejala seperti sakit perut, kembung, gas dan diare, yang disebabkan oleh malabsorpsi laktosa.

Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan enzim laktase dengan cukup.

Padahal, enzim laktase berperan untuk memecah laktosa untuk pencernaan. Enzim ini sangat penting bagi bayi untuk mencerna ASI.

Baca juga: Cara Mencegah dan Mengatasi Ruam Popok Pada Bayi

Seiring bertambahnya usia, enzim laktase yang dihasilkan tubuh semakin berkurang. Pada usia dewasa, hingga 70 persen manusia tidak lagi menghasilkan cukup laktase untuk mencerna laktosa dengan baik dalam susu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal inilah yang menyebabkan munculnya gejala intoleransi laktosa. Melansir Helathline, berikut lima gejala umum yang kerap terjadi pada penderita intoleransi laktosa:

1. Sakit Perut dan kembung

Nyeri perut dan kembung adalah gejala umum dari intoleransi laktosa pada anak-anak dan orang dewasa.

Laktosa akan melewati usus ketika tidak dapak dicerna oleh tubuh. Padahal, laktosa tidak dapat diserap oleh sel-sel yang melapisi usus besar.

Namun, zat tersebut dapat difermentasi dan dipecah oleh bakteri alami yang hidup di pencernaan.

Fermentasi ini menyebabkan pelepasan asam lemak rantai pendek, serta gas hidrogen, metana dan karbon dioksida.

Peningkatan asam dan gas yang dihasilkan dapat menyebabkan sakit perut dan kram. Rasa sakit biasanya terjadi di sekitar pusar dan di bagian bawah perut.

Sementara itu, sensasi kembung disebabkan oleh peningkatan air dan gas di usus besar, yang menyebabkan dinding usus meregang. Kondisi ini juga dikenal dengan sebutan distensi.

2. Diare

Intoleransi laktosa menyebabkan diare karena terjadinya peningkatkan volume air di usus besar, yang meningkatkan volume dan kandungan cairan pada tinja.

Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada pada orang dewasa.

Saat laktosa di fermentasi menjadi asam lemak dan gas rantai pendek di usus besar, sebagian zat asam tersebut diserap kembali ke usus besar.

Hal inilah yang turut meningkatkan jumlah air yang dikeluarkan tubuh ke usus besar.

Baca juga: Bolehkah Minum Obat setelah Minum Madu?

3. Peningkatan Gas

Fermentasi laktosa di usus besar dapat meningkatkan produksi gas hidrogen, metana dan karbon dioksida.

Proses inilah yang menyebabkan penumpukan gas dalam perut sehingga memicu rasa kembung.

Jumlah gas yang dihasilkan bisa berbeda untuk setiap orang karena perbedaan dalam efisiensi bakteri dalam tubuh dan serta tingkat reabsorpsi gas oleh usus besar.

4. Konstipasi

Para penderita intoleransi laktosa, konstipasi terjadi karena bakteri yang berperan dalam fermentasi laktosa menghasilkan gas metana.

Metana dapat memperlambat waktu yang dibutuhkan makanan untuk bergerak melalui usus dan memicu sembelit pada beberapa orang.

Sejauh ini, efek konstipasi karena intoleransi laktosa hanya ditemukan pada penderita sindrom iritasi usus dan pertumbuhan bakteri yang berlebihan.

Oleh karena itu, gejala sembelit tidak selamanya dialamu oleh penderita intoleransi laktosa.

Gejala lain

Selain gejala yang telah disebutkan, penderita intoleransi laktosa juga bisa mengalami hal-hal berikut:

  • sakit kepala
  • kelelahan
  • kehilangan konsentrasi
  • nyeri otot dan sendi
  • bisul mulut
  • eksim.

Orang yang mengalami alergi susu juga kerap mengalami intoleransi laktosa. Faktanya, alergi susu dan intoleransi laktosa adalah dua hal yang berbeda. Namun, kondisi ini umumnya sering terjadi bersamaan sehingga sulit diidentifikasi.

Orang yang mengalami alergi susu biasanya merasakan gejala berkut:

  • ruam dan eksim
  • muntah, diare, dan sakit perut
  • asma
  • anafilaksis atau alergi parah yang mengancam jiwa.

Berbeda dengan Berbeda dengan intoleransi laktosa, alergi susu dapat mengancam jiwa. Itu sebabnya, kondisi ini memerlukan diagnosis dan penanganan yang tepat.

 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Sumber Healthline
Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Iskemia
Iskemia
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lemah Jantung

Lemah Jantung

Penyakit
Mengenal Gejala Kanker Paru-paru Stadium 2

Mengenal Gejala Kanker Paru-paru Stadium 2

Health
Agranulositosis

Agranulositosis

Penyakit
8 Gejala Prostatitis yang Pantang Disepelekan

8 Gejala Prostatitis yang Pantang Disepelekan

Health
Edema Paru

Edema Paru

Penyakit
7 Makanan yang Pantang Dikonsumsi Ibu Hamil

7 Makanan yang Pantang Dikonsumsi Ibu Hamil

Health
Balanitis

Balanitis

Penyakit
6 Penyebab Hidung Sakit seperti Kemasukan Air

6 Penyebab Hidung Sakit seperti Kemasukan Air

Health
9 Jenis Makanan Sehat yang Direkomendasikan untuk Ibu Hamil

9 Jenis Makanan Sehat yang Direkomendasikan untuk Ibu Hamil

Health
Gangrene

Gangrene

Penyakit
7 Penyebab Kontraksi Palsu, Ibu Hamil Perlu Tahu

7 Penyebab Kontraksi Palsu, Ibu Hamil Perlu Tahu

Health
Gangguan Menstruasi

Gangguan Menstruasi

Penyakit
Kenali Apa itu Prostatitis, Penyakit Prostat yang Rawan Menyerang Pria

Kenali Apa itu Prostatitis, Penyakit Prostat yang Rawan Menyerang Pria

Health
Klaustrofobia

Klaustrofobia

Penyakit
Apakah Penyakit Tipes Bisa Menyebabkan Kematian?

Apakah Penyakit Tipes Bisa Menyebabkan Kematian?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.