Rabu, 27 Agustus 2014 21:52

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT *


Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder Clinic - RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine

Merokok dan Kesehatan Tidur

Penulis : Dr. Andreas Prasadja, RPSGT * | Kamis, 31 Mei 2012 | 15:04 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

KOMPAS.com - Tren kesehatan modern kini juga memperhatikan tidur sebagai salah satu pilar penopang kesehatan, selain olah raga dan keseimbangan nutrisi.

Perokok ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dibanding orang yang tidak merokok. Mereka jadi sulit tidur.

Di pagi hari, kita merasakan manfaat dari tidur yang menyegarkan dan memberi energi baru untuk menghadapi hari yang akan kita jelang. Ini disebabkan oleh kortisol yang dihasilkan pada saat tidur. Kortisol dihasilkan menjelang pagi saat proses tidur mendekati akhir. Dalam tidur terjadi juga pembaruan dan perbaikan sel-sel yang rusak yang dipicu oleh growth hormone yang dihasilkan tubuh pada tahap tidur dalam.

Kurang tidur atau proses tidur yang terganggu jelas merugikan kesehatan dan performa kita di siang hari. Mulai dari kurangnya motivasi, penurunan kemampuan konsentrasi dan daya ingat, hingga buruknya suasana hati. Kondisi kurang tidur juga menurunkan daya tahan tubuh seseorang. Belum lagi adanya beberapa penelitian belakangan ini yang membuktikan hubungan kurang tidur dengan tekanan darah tinggi dan risiko menderita diabetes. Tetapi efek kurang tidur yang paling nyata terlihat adalah pada kulit yang tampak kusam dan tak segar.

Nikotin

Dalam bidang kesehatan tidur, nikotin digolongkan dalam kelompok zat stimulan. Stimulan merupakan zat yang memberikan efek menyegarkan seperti halnya kafein dan coklat. Namun demikian, ada juga sebagian efek dari nikotin yang menenangkan sehingga perokok dapat merasa tenang dan santai saat menghirup asapnya.

Namun efek stimulan dari nikotin ternyata lebih kuat, ini dibuktikan dengan penelitian Punjabi dan kawan-kawan pada tahun 2006 yang meneliti efek nikotin pada pola tidur seseorang. Perokok ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dibanding orang yang tidak merokok. Mereka jadi sulit tidur.

Kecanduan rokok

Pada penelitian selanjutnya yang dipublikasikan pada Februari 2008, Punjabi dan kawan-kawan lebih menyoroti efek kecanduan rokok pada pola tidur. Secara teoritis, nikotin akan hilang dari otak dalam waktu 30 menit. Tetapi reseptor di otak seorang pecandu seolah 'menagih' nikotin lagi, sehingga mengganggu proses tidur.

Pada pecandu akut yang baru mulai kecanduan rokok, selain lebih sulit tidur, mereka juga dapat terbangun oleh keinginan kuat untuk merokok setelah tidur kira-kira 2 jam. Setelah merokok mereka akan sulit untuk tidur kembali karena efek stimulan dari nikotin. Saat tidur, proses ini akan berulang dan ia terbangun lagi untuk merokok.

Sedangkan pada tahap lanjut, perokok mengalami gangguan kualitas tidur yang dipicu oleh efek 'menagih' dari kecanduan nikotin. Dari perekaman gelombang otak di laboratorium tidur, didapatkan bahwa perokok lebih banyak tidur ringan dibandingkan tidur dalam; terutama pada jam-jam awal tidur. Akibatnya, dari penelitian tersebut didapatkan, jumlah orang yang melaporkan rasa tak segar atau masih mengantuk saat bangun tidur pada perokok adalah 4 kali lipat dibandingkan orang yang tidak merokok.

Menghentikan kecanduan

Salah satu penyebab pecandu rokok sulit menghentikan kebiasaan merokok adalah gangguan tidur yang dipicu oleh efek 'menagih' yang dialami. Ini pun menjadi masalah baru ketika seseorang mencoba beberapa macam plester maupun obat-obatan pengganti nikotin.

Beberapa obat pengganti nikotin mempunyai efek stimulan yang sama dengan nikotin, sehingga menyebabkan penderita sulit tidur jika diminum di malam hari. Sedangkan jenis obat yang lainnya juga menyebabkan efek kecanduan yang sama seperti nikotin.

Untuk itu, strategi penghentian rokok perlu juga memperhatikan waktu dan jam biologis seseorang.


****

Kita semua sudah memahami berbagai kerugian dari kebiasaan merokok. Mulai dari gangguan jantung dan pembuluh darah hingga gangguan kehamilan pada wanita. Kini dengan ditambahnya pengetahuan dari sisi kedokteran tidur, bertambah lagi alasan untuk menghentikan atau tidak memulai kebiasaan buruk yang bernama merokok.



Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui