Kamis, 24 Juli 2014 11:23

NEWS & FEATURES / HOT TOPICS - ARTIKEL

IDI: Iklan Testimoni TCM Lecehkan Profesi Dokter

Penulis : Natalia Ririh | Senin, 13 Agustus 2012 | 07:47 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Prijo Sidipratomo Sp Rad menilai, iklan testimoni pengobatan traditional chinese medicine (TCM) yang banyak disiarkan media, terutama televisi, telah melecehkan profesi dokter.

"Terus terang saja, iklan testimoni itu sangat melecehkan kemampuan dokter. Karena tidak ada dokter yang dapat mengobati penyakit kronis hanya dengan datang 1 atau 2 kali langsung sembuh," kata Prijo ketika ditemui di kantornya, akhir pekan lalu.

Penyakit kronis seperti diabetes, lanjut Prijo, tidak bisa disembuhkan hanya dengan berobat selama dalam 4 atau 5 kali penanganan dan minum obat tertentu. Untuk mengatasi diabetes, penderita harus rajin mengontrol gula darahnya secara rutin serta mengubah pola makannya. Gaya pengobatan instan seperti yang ditawarkan klinik-klinik TCM, menurut Prijo, tidak bisa menyembuhkan penyakit kronis, seperti diabetes, gagal ginjal, dan kencing manis.

Prijo mempertanyakan pula, mengapa masyarakat lebih memilih menghabiskan biaya puluhan juta rupiah untuk sekali datang berobat ke klinik TCM, tetapi langsung protes membayar jasa dokter.

"Masyarakat tidak masalah keluarkan uang sampai Rp 25 juta ke klinik TCM. Padahal, belum tentu sembuh dan uniknya mereka tidak menuntut. Beda kalau sama dokter. Dokter menarik biaya jasa Rp 200.000 sudah teriak mahal, tetapi untuk Rp 25 juta mereka diam saja," kata Prijo.

Terlepas dari fenomena tersebut, hal paling krusial dari persoalan kesehatan masyarakat saat ini, menurut Prijo, adalah masih minimnya akses kesehatan serta regulasi yang lemah dari pemerintah. Sebuah negara tanpa akses kesehatan memadai bagi masyarakatnya akan menyuburkan praktik klinik pengobatan yang belum bisa dijamin kualitasnya.

"Akses kesehatan itu di sini kalau orang sakit maka biayanya keluar dari kantongnya sendiri. Tetapi, kalau di negara lain tidak karena negara yang menanggung lewat sistem asuransi. Menghadapi segala macam iklan seperti itu, mereka tidak akan terpancing karena lebih peduli kesehatannya," ujar Prijo.



Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui