Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jasamarga

Bila Si Remaja Mengeluh Berat Badannya Kegemukan

Kompas.com - 22/06/2016, 07:00 WIB

KOMPAS.com - Pendapat teman-teman sebaya dan juga orang lain di luar lingkungan keluarganya terhadap penampilan fisik, sangat berpengaruh pada kepercayaan diri seorang anak.

Di usia pra-remaja, penampilan fisik seperti berat badan atau penampilan kulit, menjadi hal yang dianggap penting untuk diterima dalam pergaulan.

Tak mengherankan jika menurut penelitian, banyak anak usia pra-remaja, 8-10 tahun, yang ingin menurunkan berat badannya, walau sebenarnya berat badannya tergolong ideal.
Peran orangtua sangat penting untuk memberi pengertian bahwa kesehatan jauh lebih penting dari pada penampilan tubuh sehingga ia nyaman dengan bentuk tubuhnya.

Bila anak memang mengalami kegemukan, orangtua memang perlu mendukungnya untuk menurunkan berat badan. "Tapi yang ditekankan adalah alasan kesehatan, bukan karena memperbaiki penampilan fisik," kata psikolog remaja dan keluarga Sutji Sosrowardojo.

Sutji mengatakan, kegemukan pada anak bisa disebabkan karena faktor genetik atau karena gaya hidup yang tidak sehat, misalnya kurang bergerak, pola makan tidak sehat, dan lebih banyak menonton TV atau bermain games.

"Bila orangtua juga gemuk, jadikan penurunan berat badan itu sebagai agenda bersama sehingga bisa dilakukan bersama-sama," katanya.

Program penurunan berat badan juga harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan tidak menghakimi anak. "Sesuaikan dengan minat anak pada aktivitas fisik tertentu," ujarnya.

Ditambahkan oleh dr.Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), pilihan makanan anak juga harus diperhatikan. "Jangan anak malah diberi makanan ringan tapi kalorinya tinggi," katanya.

Pola makan sehat yang seimbang dan bervariasi sangat dianjurkan. Anak sebaiknya tidak melakukan diet ketat karena mereka masih membutuhkan nutrisi untuk tumbuh kembangnya.

Bernie mengatakan, anak usia remaja juga tidak perlu takut minum susu karena alasan takut gemuk. Apalagi menurut penelitian SEANUTS, banyak anak Indonesia yang kekurangan vitamin D.

Meski anak kegemukan karena ia kurang bergerak, sebaiknya orangtua tidak menilai anak semata-mata dari bentuk tubuhnya. Hal itu akan membuat anak memiliki persepsi tentang citra diri yang negatif. Akibatnya anak justru merasa cemas, kurang percaya diri, dan sulit berkonsentrasi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau