Salin Artikel

Riset Buktikan Perut Buncit Bikin Fungsi Otak Terganggu, Kok Bisa?

KOMPAS.com - Tak hanya menganggu penampilan, perut buncit ternyata bisa mempengaruhi fungsi otak kita.

Hal tersebut telah terbukti lewat riset yang dilakukan di Inggris dengan menganalisis 9.600 orang dengan berat badan berlebih.

Dari riset tersebut terungkap bahwa orang dengan berat badan berlebih memiliki volume materi abu-abu di otak yang lebih rendah daripada orang dengan berat badan normal.

Materi abu-abu mengandung sebagian besar sel-sel saraf otak. Penelitian sebelumnya telah membuktikan penyusutan materi abu-abu dapat meningkatkan risiko demensia.

Sayangnya, peneliti tidak bisa menemukan alasan mengapa obesitas menyebabkan volume materi abu-abu di otak menyusut.

"Karena kami hanya mengukur volume materi abu-abu pada satu kesempatan, sulit untuk menafsirkan apakah perbedaan itu bermakna secara klinis," kata Mark Hamer, seorang profesor di Universitas Loughborough di Leicestershire, Inggris, yang memimpin riset tersebut.

Melansir laman Healthline, pendiri The Alzheimer’s Drug Discovery Foundation, Howard Fillit, mengatakan bahwa lemak perut lebih berperan besar dalam menyebabkan penyusutan volume materi abu-abu di otak daripada indeks massa tubuh.

Menurutnya, lemak di perut dapat menyebabkan peradangan yang meningkatkan risiko gangguan kognitif.

Selain itu, para ahli juga menyimpulkan bahwa rasio pinggang dan panggul adalah cara terbaik untuk mengukur tingkat obesitas keseluruhan daripada indeks massa tubuh, terutama pada orang berusia tua yang telah kehilangan massa otot karena penuaan.

"Indeks massa tubuh dalah indikator obesitas sentral yang kurang dapat diandalkan," ucap Fillit.

Obesitas ganggu fungsi otak

Di sisi lain, obesitas memang meningkatkan risiko gangguan kognitif melalui tiga cara berikut:

  • Menyebabkan peradangan
  • Menyebabkan gangguan metabolisme seperti resistensi insulin
  • Kurangnya latihan fisik

Oleh karena itu, Fillit memperingatkan agar kita berhati-hati terhadap penumpukan lemak perut karena hal tersebut bisa menjadi indikator buruknya tingkat kesehatan kita.

Dokter spesialis penyakit dalam dan obesitas, Alexandra Sowa, juga mengatakan, indek massa tubuh adalah pedoman pengukuran obesitas yang kurang tepat.

"Hanya mengandalkan rasio tinggi dan berat badan tidak bisa menentukan ukuran lemak tubuh," ucap dia.

Hal paling tepat untuk menentukan tingkat obesitas adalah dengan menghitung rasio pinggang dan panggul karena lebih berfokus pada pengukuran lemak perut.

"Lemak perut berada di area sistem endokrin yang mengeluarkan hormon dan bahan kimia terkait perkembangan berbagai penyakit," ungkap Sowa.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ukuran rasio pinggang dan panggul yang sehat tidak melebihi 0,85 untuk wanita dan maksimal 0,9 untuk pria. Lebih dari angka tersebut, maka seseorang bisa dikategorikan obesitas.

https://health.kompas.com/read/2020/02/09/150000468/riset-buktikan-perut-buncit-bikin-fungsi-otak-terganggu-kok-bisa-

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.