Salin Artikel

Penyakit Delirium: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

KOMPAS.com - Pernahkan Anda melihat seseorang yang terlihat kebingungan hingga sulit berpikir, mengingat, fokus, atau tidur?

Jika Anda pernah melihatnya atau bahkan mengalaminya sendiri, bisa jadi itu adalah gejala delirium.

Melansir laman Healthline, delirium adalah perubahan mendadak pada otak yang menyebabkan kebingungan mental dan gangguan emosi.

Kondisi ini bisa membuatnya sulit untuk berpikir, mengingat, tidur, fokus, dan sejenisnya.

Biasanya, hal ini terjadi saat seseorang mencoba berhenti mengonsumsi alkohol, setelah operasi, berada dalam tekanan emosional yang tinggi atau mengalami demensia.

Delirium biasanya bersifat sementara dan dapat diobati secara efektif.

Penyebab

Delirium biasanya disebabkan oleh adanya peradangan dan infeksi yang mengganggu fungsi otak.

Selain itu, delirium juga bisa disebabkan karena konsumsi oat-obatan tertentu yang menganggu struktur kimia di otak.

Itu sebabnya, konsumsi alkohol dan penyalahgunaan obat-obatan bisa menyebabkan delirium.

Delirium juga bisa disebabkan karena sesak nafas atau asma. Pasalnya, sesak nafas dan asma menyebabkan otak kekurangan oksigen sehingga tidak bisa befungsi optimal.

Orang yang berusia di atas 65 tahun berisiko besar mengalami delirium.

Selain itu, berikut kondisi yang membuat seseorang rentan mengalami delirium:

  • pasca operasi
  • mengalami gejala penarikan alkohol atau narkoba
  • memiliki penyakit yang merusak otak, seperti stroke dan demensia
  • berada di bawah tekanan emosional yang ekstrem
  • kurang tidur
  • dehidrasi
  • infeksi
  • nutrisi yang buruk.

Gejala

Delirium memengaruhi pikiran, emosi, kontrol otot, dan pola tidur. Kondisi ini juga bisa membuat kita mengalami hal berikut:

Cara mengatasi

Delirium bisa diatasi berdasarkan penyebabnya. Biasanya, metode yang digunakan untuk mengatasi delirum bisa berupa pemberian obat tetentu.

Jika delirium disebabkan seragan asma yang parah, hal ini biasanya diatasi dengan pemberian inhaler atau oksigen untuk megenbalikan pernapasan.

Dokter juga bisa memberika antiobiotik jika delirium disebabkan oleh infeksi bakteri.

Dalam beberapa kasus, dokter juga bisa menyarankan pasien berhenti mengonsumsi alkohol atau obat tertentu.

Delirium yang disebabkan karena tekanan emosional biasanya diatasi dengan pemberian antidepresan, obat penenang, atau tiamin.

Kondisi ini juga bisa diatasi dengan metode konseling untuk membuat pasien merasa nyaman dan aman untuk mendiskusikan pikiran dan perasaannya.

https://health.kompas.com/read/2020/07/25/133400268/penyakit-delirium--gejala-penyebab-dan-cara-mengatasinya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.