Salin Artikel

5 Alasan Bayi di Bawah Usia 6 Bulan Belum Boleh Diberi MPASI

KOMPAS.com – Banyak orangtua masih beranggapan bahwa bayi mereka sudah siap makan sebelum usia 6 bulan.

Padahal akan lebih baik jika orangtua menunggu hingga bayi genap berusia 6 bulan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan American Academy of Pediatrics pun sama-sama menyarankan bayi harus diberi air susu ibu (ASI) eksklusif selama sedikitnya 6 bulan.

ASI sudah menyediakan semua kalori dan nutrisi yang dibutuhkan bayi sebelum usia 6 bulan.

Lebih jauh, berikut ini ragam alasan bayi di bawah usia 6 bulan tidak boleh diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang perlu dipahami:

1. Kekurangan nutrisi

Melansir Buku Best of The Best MPASI: Gizi Tepat (2018) oleh Fasty Arum Utami, S.Gz. M.Sc, pemberian MPASI dapat membuat bayi kehilangan nutrisi dari ASI.

Pasalnya, konsumsi MPASI bisa membuat bayi kenyang dan enggan minum ASI, sehingga kebutuhan nutrisi bayi tidak terpenuhi.

Padahal kandungan nutrisi pada ASI cenderung lebih kompleks atau banyak daripada makanan yang dibuat.

ASI di antaranya terdiri dari air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, zat antibodi, dan ragam enzim yang disebut-sebut dapat mengurangi risiko bayi terkena penyakit tertentu, seperti diare, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), pneumonia, asma, obesitas, dan diabetes.

2. Risiko tersedak

Hingga usia 6 bulan, mulut bayi hanya mampu membuat gerakan mengisap.

Bayi belum mampu mengunyah.

Jadi, jika dipaksakan, bayi bisa tersedak dan sangat berbahaya akibatnya.

3. Memicu diare

Sebelum usia 6 bulan, sistem pencernaan bayi belum siap menerima MPASI.

Jadi, jangan pernah memberikan makanan padat pada bayi jika memang belum waktunya.

Sebelum genap usia 6 bulan usianya, bayi hanya bisa mencerna ASI.

Apabila diberi MPASI, usus bayi belum mampu mengolah zat makanan karena enzim pencernaan bayi belum diproduksi secara maksimal.

Alhasil, bayi rentan menderita diare jika tetap diberi MPASI sebelum berusia 6 bulan.

4. Memicu anemia

Pengenalan MPASI yang terlalu dini dapat memengaruhi penyerapan zat besi dari ASI, sehingg bisa menyebabkan bayi mengalami anemia.

5. Kelebihan berat badan

Melansir laman resmi IDAI, pemberian makanan pendamping sebelum bayi berusia 6 bulan dapat menyebabkan bayi mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas.

Pasalnya, makanan padat cenderung memiliki kalori yang lebih banyak ketimbang ASI.

Ini berarti, bayi akan mendapatkan asupan kalori yang lebih banyak dari yang seharusnya dan memicu penumpukan lemak di tubuh.

Barangkali Anda sebagai orangtua pernah mendengar orang lain mengatakan, kalau bayi senang memasukkan jari ke mulut, berarti dia siap diberi makanan tambahan, jangan terkecoh.

Faktanya, setiap bayi mengalami fase memasukkan jari tangan ke dalam mulut.

Ini adalah fase di mana bayi senang bereksperimen dengan tubuhnya, dan bukan tanda-tanda siap makan.

Berikan MPASI saat bayi benar-benar siap, yakni selepas usia genap 6 bulan.

Bayi usia kurang dari 6 bulan boleh diberi MPASI jika mereka mengalami pertumbuhan yang lambat seperti tidak mengalami kenaikan berat badan.

Namun, pemberian MPASI sebelum bayi berusia kurang dari 6 bulan perlu izin atau atas hasil konsultasi dengan dokter.

https://health.kompas.com/read/2020/08/09/180200968/5-alasan-bayi-di-bawah-usia-6-bulan-belum-boleh-diberi-mpasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.