Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Waspadai Berat Badan Turun yang Menjadi Gejala Diabetes

KOMPAS.com – Berat badan turun tak selalu menjadi kabar baik bagi para penderita obesitas atau siapa saja yang sedang mendambakan penurunan berat badan.

Pasalnya, berat badan turun bisa menjadi gejala diabetes yang patut diwaspadai.

Salah satu founder Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), Prof. Dr. dr. Sri Hartini KS Kariadi, Sp.PD-KEMD., menjelaskan ketika tubuh tidak bisa mendapatkan energi yang cukup dari gula karena kurang insulin, sel-sel seolah-olah akan berteriak, “toloooong gak ada energi nih……!”.

Dengan heboh, tubuh pun akan bergegas mengolah zat-zat lain di dalam tubuh untuk diubah menjadi energi.

Zat-zat yang diubah tersebut adalah lemak dan protein.

Dalam bukunya Diabetes? Siapa Takut!! (2009), dr. Sri Hartini mengungkapkan, apabila hal tersebut berlangsung cukup lama, orang bisa jadi akan tampak kurus dan berat badannya turun.

Seperti diketahui, gula adalah bahan bakar utama untuk pembentukan energi di dalam tubuh.

Di dalam sel, gula akan diolah menjadi energi atau tenaga untuk kebutuhan mendadak, dan sebagian akan disimpan agar dapat dipakai pada suatu waktu nanti.

Sementara, pada penderita diabetes, terdapat masalah dengan insulin, mungkin karena jumlah insulin yang kurang, efek kerja insulin dalam hal memasukkan gula ke dalam sel tidak sempurna, atau kedua-duanya, sehingga gula darah tetap akan tinggi.

Kadar gula darah yang tinggi ini pun dapat “meracuni” dan menyebabkan rasa lemah dan tidak sehat, serta menyebabkan komplikasi dan gangguan metabolisme yang lain.

Maka dari itu, pada penderita diabetes, penurunan berat badan biasanya akan disertai dengan beragam gejala lain, seperti:

1. Sering sekali buang air kecil dengan volume yang banyak (poliuri)

Mengapa terjadi poliuri? Jika kadar gula darah melebihi nilai ambang ginjal (>180 mg/dl), gula akan keluar bersama urine.

Untuk menjaga agar urine yang keluar tidak terlalu pekat (karena mengandung gula), tubuh akan menarik air sebanyak mungkin ke dalam urine, sehingga volume urine yang keluar banyak dan kencing pun menjadi sering.

2. Sering kali merasa haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya (polidipsi)

Mengapa polidipsi? Dengan banyaknya urine yang keluar, badan akan kekurangan air atau dehidrasi.

Untuk mengatasi hal tersebut, timbullah rasa haus, sehingga orang ingin selalu minum.

3. Nafsu makan meningkat (polifagi) dan kurang tenaga

Mengapa polifagi? Pada penderita diabetes, karena insulin bermasalah, pemasukan gula ke dalam sel-sel tubuh kurang, sehingga energi yang dibentuk pun kurang.

Inilah sebabnya orang merasa kurang tenaga.

Dengan demikian, otak juga “berpikir” bahwa kurang energi itu karena kurang makan dan tubuh berusaha meningkatkan asupan makanan.

Di samping gejala-gejala klasik di atas, ada pula gejala lain diabetes.

Gejala ini biasanya disebabkan oleh komplikasi yang sudah terjadi.

Sering kali penderita diabetes dewasa dan berumur tidak menunjukkan gejala klasik yang jelas.

Gejala yang mereka tunjukkan adalah karena komplikasi itu.

Gejala komplikasi yang paling sering dikeluhkan antara lain, yakni kesemutan di kaki, gatal-gatal atau luka yang tidak sembuh, dan yang paling merisaukan adalah gatal di daerah selangkangan.

Jadi, apabila mendapati berat badan turun disertai dengan berbagai gejala di atas, Anda patut mewaspadai adanya penyakit diabetes mellitus (DM).

https://health.kompas.com/read/2020/08/19/060000568/waspadai-berat-badan-turun-yang-menjadi-gejala-diabetes

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke