Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Bersama Membasmi TBC

Pada 1971, sekitar 60 juta penduduk atau separuh penduduk Indonesia terjangkit kuman TBC (Kompas, 26/3/2020).

Berbagai penyakit baru telah membuat TBC tidak lagi populer dan penderita TBC juga terus menurun, sejalan dengan berbagai usaha yang dilakukan pemerintah dan komunitas peduli TBC.

Walau demikian, jumlah penderita TBC di Indonesia masih tinggi, yaitu kedua terbanyak dunia. Negara-negara lain telah dapat mengeliminasi penyakit TBC dengan berhasil, seperti negara-negara maju dan beberapa negara berkembang.

Penderita TBC dicirikan dengan sering batuk yang berdahak, terjadi dalam waktu yang lama, keluar keringat dingin di malam hari, dan berat badan turun.

Karena sering batuk, penderita TBC sulit melakukan pekerjaan sehari-hari. Mereka pun sering dijauhi orang lain yang khawatir akan ketularan penyakit TBC.

TBC disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis yang menyerang paru-paru atau bagian tubuh lain seperti selaput otak, kulit, kelenjar, dan tulang.

Kuman ini ditemukan oleh Robert Koch, ilmuwan Jerman, pada 24 Maret 1882. Tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia oleh PBB.

Penyakit TBC menular melalui tetesan air ludah pada saat penderita TBC batuk atau bersin. Sekali batuk dapat keluar 3.000 percikan dahak yang mengandung 3.500 kuman tuberculosis. Jika bersin, kuman yang tersembur dapat mencapai 1 juta bakteri.

Seorang pasien TBC dapat menginfeksi 10-15 orang dalam satu tahun. Keganasan TBC menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, dengan lebih dari 4.100 orang meninggal per hari di seluruh dunia (2020).

Infeksi TBC melalui pernafasan dan menyerang paru-paru itu mirip dengan infeksi Covid-19 yang mendadak muncul dua tahun terakhir ini.

Bedanya, semua negara terkena Covid-19, sementara TBC sudah tidak ada lagi di negara-negara maju. Negara-negara berkembang harus mengatasi TBC dengan kekuatan sendiri.

Masalahnya, hanya separuh dari kebutuhan dana sebesar 13 miliar dollar AS per tahun untuk memerangi TBC yang tersedia.

Akibatnya, antara 2018-2020, hanya separuh dari 40 juta orang yang memperoleh pengobatan TBC.

Dan dari target 30 juta orang yang memerlukan pengobatan pencegahan TBC, hanya 8,7 juta orang yang dapat diberikan.

Yang mengkhawatirkan, sebagian besar dari mereka yang tidak menerima pengobatan untuk penyembuhan dan pencegahan itu adalah anak-anak.

Indonesia menyumbang kasus TBC terbanyak ketiga di dunia pada 2020, dengan 824.000 kasus, setelah India (2,5 juta kasus) dan China (842.000 kasus). Indonesia juga menyumbang dua pertiga kasus TBC baru di dunia.

Mengapa TBC bisa bertahan seabad lebih sejak mulai ditangani pemerintah kolonial Belanda tahun 1908?

Kendala yang dihadapi penderita TBC pada umumnya adalah kurangnya kedisiplinan untuk meminum obat yang memang sangat ketat.

Pengobatan sampai tuntas memerlukan waktu 6-9 bulan, dan selama itu pasien harus minum minimal empat macam obat yang diberikan dokter setiap hari.

Penderita TBC seringkali diharuskan pergi ke rumah sakit/puskesmas/klinik secara periodik untuk memperoleh obat dan menjalani pemeriksaan rutin.

Walaupun biaya pengobatan gratis, namun penderita TBC harus mengeluarkan biaya dan waktu untuk pergi ke fasilitas kesehatan tersebut selama masa pengobatan.

Kesulitan keuangan untuk pergi berobat menyebabkan sebagian penderita berhenti berobat sama sekali, dengan segala konsekuensinya.

Terjangkitnya TBC dapat terjadi karena pilihan hidup sendiri, seperti kebiasaan merokok dan kurang menjaga kebersihan diri, termasuk menggunakan masker pada saat diperlukan, tetapi juga karena kondisi lingkungan.

Permukiman padat, sanitasi buruk, keterbatasan air bersih, udara yang lembab dan sedikitnya paparan matahari membuat risiko penularan kuman tinggi.

Maka program perbaikan kampung merupakan upaya mencegah penularan TBC yang cukup signifikan.

Apapun penyebabnya, penderita TBC sungguh mengalami nasib yang kurang menguntungkan. Selain penderitaan fisik karena batuk yang terus menerus, mereka juga sering dikucilkan secara sosial karena orang lain merasa terganggu dan khawatir tertular TBC.

Mereka juga mengalami kerugian secara ekonomi yang tidak kecil nilainya, karena berkurangnya waktu produktif dan menurunnya penghasilan, bertambahnya biaya transportasi, berkurangnya konsumsi, berkurangnya waktu untuk bersantai dan mengurus rumah tangga.

Pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir ini mungkin sekali menambah kesulitan penderita TBC.

Mereka terkendala untuk berobat ke rumah sakit akibat pembatasan mobilitas masyarakat, dan pelayanan yang menurun karena sumber daya dana dan tenaga medis nasional tercurah untuk mengatasi Covid-19.

Setelah pandemi cukup terkendali, pemerintah memberi perhatian pada penanggulangan TBC. Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis menetapkan target eliminasi TBC pada tahun 2030, yaitu penurunan angka kejadian menjadi 65 per 100.000 penduduk dan penurunan angka kematian akibat TBC menjadi 6 per 100.000 penduduk.

Target itu cukup menantang, namun pemerintah memiliki bekal yang cukup dari pengalaman mengatasi pandemi Covid-19.

Gerakan TOSS atau Temukan Obati Sampai Sembuh, dapat mereplikasi prosedur testing, tracing dan treatment (3T) untuk menemukan penderita TBC.

Demikian pula pendataan digital penderita TBC dapat membuat pemberian obat lebih efektif dan pemantauan kondisi pasien lebih intensif.

Namun pemerintah tetap membutuhkan peran masyarakat dan organisasi profesi dalam mengatasi TBC.

Organisasi berbasis masyarakat seperti Perhimpunan Pemberantasan Penyakit TBC Indonesia (PPTI), Pejuang Tangguh (Peta), Yayasan Terus Berjuang (Terjang), Perhimpunan Organisasi Pasien TB, Koalisi Organisasi Profesi untuk Tuberkulosis Indonesia (KOPI), Yayasan Stop TB Partnership, dll, terbukti dapat mengisi keterbatasan gerak pemerintah, dari perumusan program hingga penanganan pasien dan pencegahan TBC.

Perkumpulan relawan itu berfungsi baik dalam meningkatkan motivasi, melakukan pemantauan, memberikan informasi, mendampingi pasien, mengajak penderita yang sebelumnya tidak mau berobat untuk ditangani, dan mensosialisasikan pencegahan penularan TBC.

Namun upaya pembasmian TBC akan lebih efektif jika tersedia vaksin yang ampuh untuk mematikan kuman TBC, di samping vaksin BCG untuk pencegahan yang sudah ada sejak lama.

Tantangan ini kiranya perlu dijawab dengan segera oleh Kementerian Kesehatan, BRIN, perusahaan farmasi, perguruan tinggi, lembaga riset, dll.

Apakah upaya bersama membasmi TBC akan berhasil mencapai target yang ditetapkan? Kita harapkan demikian adanya.

https://health.kompas.com/read/2022/06/23/093438768/bersama-membasmi-tbc

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke