Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Mengenal Gejala Konversi, Respon Fisik Terhadap Trauma

KOMPAS.com - Pernahkah Anda mendengar tentang gangguan konversi?

Gangguan konversi adalah kondisi di mana seseorang mengalami gejala fisik sementara, seperti kebutaan atau kelumpuhan tanpa penyebab fisik.

Para ahli memperkirakan bahwa gangguan konversi merupakan respon fisik terhadap trauma mental, fisik, atau psikologis.

Dalam dunia medis, gangguan konversi juga disebut sebagai gangguan neurologis fungsional.

Gangguan konversi bisa dipicu oleh peristiwa stres, trauma emosiona atau fisik, perubahan fungsi otak pada tingkat struktural, seluler, atau metabolisme.

Namun, gangguan konversi juga dapat terjadi bila tidak ada pemicu yang jelas.

Gejala

Gejala gangguan konversi bervariasi pada setiap orang dan pada jenis gangguan saraf yang dimiliki seseorang.

Gejalanya bisa ringan atau berat dan biasanya mempengaruhi kemampuan tubuh untuk berfungsi dengan benar. Gejala ganggunan konversi bisa berupa:

  • kelumpuhan lengan atau kaki
  • kehilangan keseimbangan
  • kejang, terkadang dengan kesadaran terbatas
  • episode tidak responsif
  • kesulitan menelan
  • perasaan ada yang mengganjal di tenggorokan
  • getaran
  • kesulitan berjalan
  • bicara cadel atau kehilangan kemampuan berbicara
  • kesulitan mendengar atau kehilangan pendengaran
  • penglihatan ganda, penglihatan kabur, atau episode kebutaan
  • mati rasa atau hilangnya sensasi sentuhan.

Diagnosis

Seorang dokter akan mendiagnosis gangguan konversi menggunakan kriteria yang ditentukan oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) terbaru. Kriteria ini meliputi:

  • kehilangan kontrol gerakan atau gejala sensorik
  • gejala yang terjadi setelah peristiwa traumatis atau stres
  • gejala yang tampaknya tidak memiliki penyebab medis atau fisik yang mendasarinya
  • gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari seseorang

Seorang dokter mungkin juga menyarankan beberapa tes lain untuk menyingkirkan kondisi medis lainnya. Tes ini meliputi:

  • computed tomography (CT) scan
  • sinar X
  • electroencephalograms (EEG), yang merekam aktivitas otak dan dapat membantu menyingkirkan penyebab neurologis kejang
  • tekanan darah dan tes refleks.

Setelah didiagnosis, ada berbagai cara untuk mengobati gangguan konversi.

Cara mengatasi

Siapa pun yang mengalami gejala gangguan konversi harus mencari perhatian medis segera, karena gejalanya mungkin disebabkan oleh kondisi medis yang mendasarinya.

Pengobatan lini pertama adalah mencoba mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya.

Setelah seseorang mengetahui apa penyebabnya, mereka dapat bekerja pada mekanisme koping dan solusi lain untuk menghilangkan stres dan trauma emosional sebanyak mungkin.

Perawatan yang disarankan untuk gangguan konversi mungkin termasuk:

  • mengobati kondisi kesehatan mental yang mendasarinya, seperti depresi
  • terapi perilaku kognitif (CBT)
  • psikoterapi
  • teknik relaksasi, seperti meditasi atau yoga
  • terapi fisik
  • menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan yang sehat
  • mencari dukungan tambahan dari teman, keluarga, dan komunitas.

https://health.kompas.com/read/2022/07/21/140000368/mengenal-gejala-konversi-respon-fisik-terhadap-trauma

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke