Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tunda Keriput dengan Pola Hidup Sehat

Kompas.com - 20/01/2010, 08:46 WIB
Editoracandra

JAKARTA, KOMPAS.com — Proses penuaan pada diri seseorang sangat terkait erat dengan penurunan produksi hormon tubuh. Dalam ilmu anti-aging disebutkan, produksi hormon akan berhenti ketika seseorang berusia 30 tahun.

"Setelah itu, hormon akan menurun terus sampai akhir hayat kita," kata Widya Murni, dokter dari Jakarta Anti-Aging Center, Kemang, Jakarta Selatan.

Padahal, hormon berperan penting dalam proses regenerasi sel supaya seseorang selalu tampak awet muda. Sewaktu muda, hormon tubuh bekerja mengatur fungsi-fungsi organ tubuh, termasuk respons terhadap panas, dingin, dan aktivitas seksual. Jika produksi hormon menurun, kemampuan tubuh untuk memperbaiki sendiri (self repaired) menjadi berkurang.

Itulah yang disebut dengan penuaan. Meski begitu, proses penuaan pada setiap orang pasti berbeda-beda. Ada yang meski usia di atas 30 tahun kulit masih cantik dan segar. Sebaliknya, ada orang yang baru 20 tahun, tapi wajahnya terlihat kusam bak orang tua.

Lalu, apa yang menyebabkan mereka berbeda? Phaidon Toruan, Anti-Aging & Executive Fitness Center, di Kemang, Jakarta Selatan, bilang, keberadaan hormon dipengaruhi gaya hidup dan pola makan. Seseorang akan cepat mengalami penuaan jika gaya hidup dan pola makannya buruk.

"Orang yang makan junk food, merokok, dan hidup tidak sehat sama saja mempercepat aging itu sendiri," katanya.

Karena itu, gaya hidup sehat sangat diperlukan untuk meningkatkan hormon tubuh. Misalnya, pengaturan makan, mengonsumsi nutrisi yang berimbang, rutin berolahraga, dan tidur yang cukup.

Bagaimana jika kita telanjur mengalami kekurangan hormon? Cara mengatasinya adalah memberikan terapi hormon. Terapi ini dikenal dengan terapi sulih hormon. Tujuannya, mengembalikan hormon yang telah hilang.

Meski begitu, terapi hormon itu sifatnya hanya menambah hormon. Jadi, tidak bisa mengembalikan keseimbangan hormon yang terganggu akibat bertambahnya usia.
Sayangnya, sosialisasi mengenai terapi sulih hormon ini tidak terlalu baik.

"Banyak orang takut dengan terapi ini karena sering terjadi kesalahan," imbuh Freddy Wilmana, dokter dan konsultan dari Perkumpulan Awet Sehat Indonesia.

Terapi hormon yang salah memang menjadi bumerang bagi penggunanya. Soalnya, terapi yang salah itu bisa memunculkan tumor dan kanker pada tubuh.  Phaidon bilang, orang yang akan disuntik hormon sebaiknya diperiksa dulu kadar hormonnya.

Selain itu, pilih jenis hormon yang alami ketimbang yang sintetis. Alasannya, hormon alami akan memberikan efek samping lebih kecil dibandingkan sintetis. Salah satu terapi hormon alami adalah minum susu kedelai setiap hari.
(Sanny Cicilia Simbolon/KONTAN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+