Pengganggu Bulan Madu

Kompas.com - 08/10/2010, 15:19 WIB
EditorLusia Kus Anna

Bulan madu semestinya menjadi masa yang indah dan mengesankan, tapi bagi beberapa perempuan bisa muncul gangguan. Bukan karena siksaan dari pasangan. Frekuensi hubungan seksual yang umumnya lebih sering di masa bulan madu, kerap mendatangkan keluhan anyang-anyangan bagi pengantin wanita.

Bolak-balik ke kamar mandi untuk berkemih atau anyang-anyangan tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan. Lebih dari itu, ada ancaman serius yang mengintai jika anyang-anyangan tidak ditangani secara tuntas. Dalam dunia medis, anyang-anyangan ini merupakan salah satu gejala sistitis atau ISK (infeksi saluran kemih).

Pada pengantin baru, berhubungan seksual yang pertama kali itu bisa menyebabkan terjadinya ISK, sering disebut honeymoon cystitis (honeymoonitis). "Infeksi ini umumnya dialami perempuan karena saluran kemihnya lebih pendek, yaitu sekitar 4-4,5 sentimeter, sedangkan pria panjangnya 17-20 sentimeter. Karena itu, kuman lebih gampang masuk ke daerah kemaluan wanita," papar Dr. Gideon FP Tampubolon, Sp.BU, dokter ahli bedah urologi dari RS Premier Bintaro.

Urin serupa teh ISK pada pengantin perempuan ini bisa terjadi karena hubungan seksual yang sering dilakukan di masa bulan madu. Hubungan seksual tersebut bisa menyebabkan gesekan pada saluran kemih, sehingga timbul lecet. Kondisi ini memudahkan kuman masuk dan menimbulkan peradangan.

Hubungan seksual memungkinkan terjadinya pemindahan kuman dari vagina atau dari anus ke saluran kemih. Letak saluran kemih yang dekat dengan vagina dan anus, membuat kuman gampang berpindah. Jenis kuman tersebut biasanya bakteri Ecoli, yang memang normal hidup di dalam kotoran manusia.

Ditambahkan Dr. Gideon, gejala ISK seringkali berupa keluhan nyeri sewaktu berkemih dan anyang-anyangan. Kalau kondisinya sudah cukup berat, bisa disertai mual, terasa panas dan pedih saat berkemih, demam, bahkan bisa terdapat darah, sehingga urin berwarna serupa teh atau benar-benar merah. Umumnya gejala dirasakan 1-2 hari setelah bakteri menerobos masuk ke dalam salurah kemih.

Untuk mencegah ISK dianjurkan untuk langsung berkemih, membersihkan daerah genital, dan banyak minum air putih setelah berhubungan seksual. Dengan cara ini, jika terdapat kuman, bisa langsung keluar bersama air kencing.    

Bila setelah penanganan pertama ini tidak menunjukkan perubahan dalam 1-2 hari, tentu sebaiknya segera ke dokter. Kemungkinan dokter akan memberikan pengobatan untuk menghilangkan rasa sakit dan antibiotika.

Obat analgesik diperlukan untuk membantu meredakan rasa panas seperti terbakar dan iritasi di saluran kemih bagian bawah. Merendam genital di dalam air hangat juga dapat mengurangi rasa tidak nyaman. Tentu saja dokter biasa menganjurkan untuk tidak melakukan aktivitas seksual sementara waktu, hingga infeksi benar-benar hilang.

Sebelum menentukan terapi, tentu dokter akan melakukan diagnosis dengan mengetahui gejala yang dirasakan pasien, riwayat kesehatannya, juga melakukan pemeriksaan urin lengkap dan memperhatikan sel darah putihnya. "Kalau sel darah putih meningkat dari normalnya 1 sampai 2, menjadi 5 atau 10, bahkan 100, dikhawatirkan terjadi infeksi," ungkap Dr. Gideon.

Pemeriksaan ultrasonografi juga perlu dilakukan. Jika ISK bersifat kronis, setiap tiga bulan sekali harus dilakukan pemeriksaan dan dilihat apakah terdapat penyakit penyerta seperti batu ginjal. Kalau masih kurang, bisa juga dilakukan pemeriksaan IVP (intravenous pyelography), x-ray, atau CT scan yang lebih canggih.    .

"Pemeriksaan ini sifatnya hanyalah penunjang. Kalau diagnosis sudah bisa ditegakkan dengan pemeriksaan sebelumnya dan hasil terapinya bagus, tidak perlu dilakukan pemeriksaan penunjang tadi," katanya lagi.

Dr. Gideon mengingatkan, selain pengantin baru, perempuan yang sudah menopause juga rentan terkena ISK. Menurunnya hormon estrogen pada masa menopause menyebabkan perubahan pada daerah genital, yaitu menjadi lebih kering, sehingga sering terjadi sistitis kronis.

Pada mereka yang menopause yang sudah sulit diperbaiki saluran kemihnya ini, lanjutnya, disarankan tindakan penambahan hormon estrogen. Terapi estrogen itu bisa dengan cara oral dalam bentuk tablet, suntikan, atau krim yang dioleskan di kemaluan. (gie/rin)


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X