Pentingnya Pendidikan Seks pada Anak Autis

Kompas.com - 16/04/2012, 07:31 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Memasuki usia remaja, hasrat dorongan seksual pada anak biasanya akan mulai muncul, begitu pula pada anak autis. Oleh karena itu, orangtua sebagai figur panutan harus mampu membimbing dan memberikan pemahaman yang tepat kepada anak terutama dalam hal seksual.

Koordinator Klinik Terpadu, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dr. Adriana S. Ginanjar, M.S mengatakan, sebelum memasuki usia remaja, orang tua dari anak autis seharusnya sudah membekali anak mereka mengenai pendidikan seksual.

"Bisa mulai dari menjaga kebersihan tubuh sendiri, hal-hal yang privasi, dan kemandirian," katanya, saat ditemui dalam acara Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations, dengan tema Autism Awareness Festival, Sabtu, (14/4/2012).

Apabila anak autis sudah mulai mengenal konsep cinta, maka orangtua perlu mengarahkan anak mereka mana yang boleh dan tidak.

Adriana mengatakan, seorang ayah sebaiknya mengajarkan edukasi seks kepada anak laki-laki, sedangkan ibu mengajarkan kepada anak perempuan. Tetapi permasalahannya, orangtua selama ini seringkali merasa kesulitan jika tiba-tiba harus bicara tentang seks kepada mereka, apalagi pada anak dengan berkebutuhan khusus, seperti autis.

Menurut Adriana, ada banyak cara yang bisa dilakukan supaya orang tua bisa menyampaikan informasi yang benar tentang seks kepada anak mereka. Misalnya, dengan memasukkan anak ke sekolah yang memberikan pendidikan seks atau apabila belum cukup bisa memanggil guru agama.

Tapi untuk anak-anak yang bisa membaca, orangtua bisa membelikan anak mereka buku tentang pendidikan seksual. "Pilih mana buku yang cocok bahasanya untuk anak," paparnya.

Pada masa puber, anak autis seringkali tidak memiliki perasaan malu saat berjalan telanjang, memperlihatkan alat kelamin, membuka celana, dan masturbasi di tempat umum.

Untuk melepaskan hasrat seksualnya tersebut, Adriana menyampaikan, masturbasi memang dibutuhkan oleh anak autis. Karena menurutnya, kalau hal ini tidak dilakukan, anak akan menjadi tertekan.

Namun orangtua harus mengajarkan kepada anak mereka agar tidak melakukan hal tersebut di tempat-tempat yang terbuka dan umum. "Itu seperti kebutuhan dasar. Sama seperti makan dan minum. Cuma hal ini menjadi sesuatu yang memalukan karena dianggap tabu," jelasnya.

Untuk menangani dorongan seksual pada anak autis, orang tua sebaiknya harus bijaksana. Bagaimanapun, dorongan seksual merupakan kebutuhan biologis yang harus dapat tersalurkan namun harus tetap sesuai dengan norma supaya tidak merugikan orang lain.

Adriana menuturkan, beberapa kegitan seperti olahraga biasanya dapat mengalihkan pikiran anak untuk tidak melakukan masturbasi. "Tetapi kalau keinginan itu tetap terus ada, kita harus memperbolehkannya tapi harus ditempat yang privat," tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.